Better Education for Indonesia


Debat Bahasa Inggris
Juli 10, 2011, 9:04 pm
Filed under: Article | Tag:

Debat Parlemen Australia

(versi: World School Debating Contest)

Drs. Fekrynur, M.Ed.

Tidak semua orang terbiasa berdebat. Namun, kepandaian berdebat adalah cerminan dari kemampuan seseorang berfikir kritis.

 Some questions on debates:

Why debating?

What are involved in debating?

What (skills) do the participants get from debating?

Does debating change the world or yourselves?

 How can you ensure others?

Ø      with facts, or

Ø      opinion

 Who is the winner of a debating session?

How should a debate end?

 Group Debat dan Pelaksanaan:

  1. Masing-masing group terdiri dari tiga (3) orang peserta,
  2. Ketiga anggota group haruslah dari sekolah yang setingkat dengan group lawan debatnya.
  3. Group peserta harus telah menyerahkan berkas pendaftaran lengkap kepada panitia sebelum masa pendaftaran ditutup.
  4. Juri debat haruslah terdiri dari tiga orang anggota yang independent, dan adil.
  5. Juri harus duduk terpisah, untuk tidak saling mempengaruhi satu samalain.
  6. Harus ada moderator dan time keeper.
  7. Pemenang debat adalah group dengan jumlah score lebih tinggi.
  8. Namun, score tidak dapat dipakai untuk menentukan rating kemampuan debat dua tim (dalam skema pertandingan) yang tidak diadu.

 Prosedur Debat

 Aturan yang detil tentang prosedur dan aturan debat haruslah dijelaskan sebelum debat dimulai.

 Namun secara garis besar dapat disampaikan sebagai berikut; pertandingan ‘Debat Parlemen Australia’ biasa dilaksanakan dengan memberi waktu: 6 – 8 menit bagi masing-masing pembicara pertama,  kedua dan ketiga dalam prime speech, sesuai dengan ketentuan panitia. Sedangkan untuk reply speech hanya diberikan waktu: 3 – 4 menit  saja kepada tiap tim.

Jadi kita akan mendengar ‘empat kali pembicaraan’ dari masing-masing group. Peserta berbicara , bergantian, selang seling dari kedua tim yang ‘berlaga’, dan dimulai oleh pembicara pertama  (enam menit) dari pihak AFFIRMATIVE. Prime speech terakhir tentu disampaikan oleh pembicara ketiga dari NEGATIVE, dan diteruskan dengan REPLY SPEECH dari tim NEGATIVE. Dengan begitu, tim AFFIRMATIVE menjadi pembicara terakhir, saat salah satu dari mereka menyampaikan REPLY SPEECH.

 Pembicara pertama, AFFIRMATIVE, biasanya perlukan menjelaskan; background of the case, definition of the motion, that they have discussed in the case building, presenting one of the reasons, arguments to support, data and examples.

 Pembicara kedua dan seterusnya diharapkan dapat mendengar pendapat dan ide-ide pembicara sebelum untuk kemudian mendebat dan mematahkannya, disamping dia mengemukakan pula alasannya sendiri dalam mendukung dan menolak motion.

 Pembicara terakhir (ketiga) dari kedua group yang berlaga, diharapkan tidak lagi menyampaikan ide atau pendapat baru. Hendaknya, dia lebih banyak mengkritisi kelemahan pendapat dan alasan lawan, membantahnya, untuk kemudian  menggarisbawahi keunggulan pendapat groupnya sendiri. Usahakanlah selalu untuk meyakinkan audience dan para juri.

 POI (point of information)

POI dapat ditawarkan oleh pihak lawan debat (AFFIRMATIVE  atau NEGATIVE) kepada yang sedang berbicara, dengan cara memberi ‘signal’, tangan diangkat sambil memanggil pembicara. Namun tidak ada keharusan bagi sipembicara saat itu untuk memberi kesempatan (untuk menerima).

Bila kesempatan ber-POI diberikan; penyampaiannya tidak boleh lebih dari 20 detik.

POI juga tidak boleh ditawarkan disembarang waktu. Peserta debat harus memperhatikan tanda kapan POI mulai bisa ditawarkan, dan atau sudah tidak boleh lagi ditawarkan.

Biasanya, POI yang ditawarkan tidak menambah kredit  atau mengurangi nilai buat sipemberinya. Akan tetapi speaker penerima POI yang pintar akan bisa merespon POI dengan jitu, sehingga dia bisa memamfaatkan POI untuk mencapai kredit lebih. Sebaliknya speaker yang lemah bisa semakin terpojok, ditantang oleh POI yang bagus.

Reply speech diberikan untuk penyampaian kesimpulan untuk kemenangan pendapat groupnya atas pendapat lawan. Oleh sebab itu, pembicaraan  dua (2) menit ini, tidak ada POI lagi yang ditawarkan atau diterima.

Beberapa Contoh Topik Debat

 This house believes that…

1.                 senior vocational schools cannot be for free, and fully financed and organized by the government only.

2.                 all cigarette factories in Indonesia should be closed, because cigarette smoking only causes problems.

3.                 the government should liberalize ‘haj’ handling by giving it up to private tour agents.

4.                 high school teachers should not talk to their students about any candidates who compete in local government positions like regent or mayor.

5.                 we must be supportive on the development of the senior citizen housing, where the old should stay among themselves only.

6.                 this country has been mismanaged by its own people; and that it is time to give people of other nationalities to manage it for us.

 Catatan:

 Posisi setuju atau berlawanan pendapat dengan motion yang diberikan tidak akan mempengaruhi penilaian karena dalam debat yang dipentingkan adalah kepandaian peserta dalam menyimak dan merespon penyampaian pembicara sebelumnya, dan kemampuannya dalam  menyampaikan hujjahnya atas pendapat lawan untuk menegakkan pendapatnya sendiri.

Berfikir kritis bisa didapatkan dengan berlatih debat.



Debate Competition In West Sumatra
Mei 10, 2012, 10:32 pm
Filed under: Uncategorized | Tag:

Dear All.
You are about to read the history of a formal debate competition, for high school students [SMAs and Vocationals] , administered by the Department of National Education, in West Sumatra. The history is still in proggress, so it is not yet completely written. You may be in the progressive history, your self or become a contributor to its written stories . By writing on the debate SMA/SMK, it is not meant to forget the most valuable contribution supplied by English teachers of SMPs in preparing their students to develop their dabating skills in SMAs and SMKs.
In the very early stage of debate development in West Sumatra, the debaters selection at the provincial level was only through written test and interview on the topics they wrote. In 2005 Fekry Nur and Eviniza of SMA 5 Padang were sent to Cipete – Jakarta to participate in the debate adjudication training. Seprahmadani of SMA 7 Padang was said to have joined a debate training too in 2010. SMKs also have been with some debate experience too for nearly a decade. Ibuk Tati of SMK Pariaman is a wellknown trainer in and around Pariaman City. In 2009, debater selection through tournaments or debate competition was begun.
National Debate Competition joined by SMAs’ debater:
2006 Harry Andrean, SMA 1 Sawahlunto
Nurul Huda, SMA 1 Bukittinggi
Widya Fitri, SMA 1 Pariaman
The competition was carried out at Safari Garden Hotel – Cisarua 30 November –8 December 2006. The team was escorted by Fekry Nur.

2008 Miftahul Khairi SMA 1 Bukittinggi
Kemal Anshari, SMA 10 Padang
Nurul Huda, SMA 1 Bukittinggi
The competition was carried out at Hotel Puncak Raya – Cisarua 21 – 29 February 2008

2009 Rahmila Dapa, SMA 1 Lubuk Sikaping
Clara Sovia Lestari, SMA 1 Padang
Yesi Riana, SMA 2 Solok
Preperation in Bukittinggi (8 – 10 March, 2009), trainer: Fekry Nur.

2010 Gilang, Yudha, and Gina Havieza, SMA 10 Padang

2011 Modhy Mahardika Jufri, SMA 1 Padang
Friska Andini, SMA 1 Padang
Pelangi Helia Putri, SMA 1 Padang

2012 Fanni Licadhya Effendi , SMA 1 Padang
Hanna Nabila, SMA 1 Padang
Zaima Dzatul Ilma, SMA 1 Padang

2012 Zaima Dzatul Ilma SMA 1 Padang (1st)
M. Aldi Novri Kurnia Abidin, SMA 1 Pariaman, (2nd)
Maulidya Fadilah, SMA 1 Payakumbuh, (3rd)
In celebration for: Gebyar Teknologi Pendidikan Sumbar , 1 st – 4th May 2012 in Diknas Prop Sumbar.

National Debate Competition joined by SMKs’ debaters:
2010 Sabrina (Ririn) SMK 2 Padang
Baitul, SMK 1 Solok,
Egi, SMK 2 Bukittinggi
The LKS was carried out in Panghegar Hotel Bandung, as the substitute for Jogya where Merapi Mountain errupted. Note: The previous year (2009 ?) the LKS was also in Bandung .

Adjudicators and Keen Debaters Among Teachers:
Fekry Nur (2004), Arjus Putra (2009), Hendrison (2009), Hafid Ardi, Refnaldi, Aufal, Delfi (2012), Pipim (2012)
Besides, there are some keen debaters among teachers of different SD, SMP, SMAs and SMKs in Payakumbuh, Solok, Sawahlunto, Bukittinggi and Solok Selatan. These keen debaters always step forward to volunteer at every chance emerging for them to debate in various trainings like: English Clubs, E-CAFÉ Learning, Australian Volunteer International (AVI)
Among potential names, recorded:
Of The Hills Hotel, 8 April 2011
1. Yenti Efrina, SMP 3 Kec Payakumbuh 50 Kota
2. Gusmardiani, M.Pd., SMP 1 Painan
3. Nurhayani, S.Pd. SMP 3 Gunung Talang,
4. Risna Dwita, SMP 1 Solok,
5. Suriyatini, SMP 2 Sawahlunto
6. Kudri SMP 2 Gunung Talang
7. Ajudicators and Debate Masters:
8. Benny Ardhi, SMP 1 Kec Harau
9. Alefiarni SMP 12 Padang
10. Masnah, SMP 1 Sutera
11. Helmi Irawati, SMP 2 Solok
12. Eva Gustenry, SMP 3 Sawahlunto
13. Darmiati, SMP 2 Batusangkar
14. Asril Jamarin, SMP 1 Sitiung
15. Marahinim, SMP 3 Lubas
16. Ermawati, SMP 4 Palupuh,
17. Dewi Sriwinda, SMP 1 Guguak 50 Kota
18. Nurmailis, SMP 4 Payakumbuh,
Rocky Hotel, 3 April 2012
1. Helma Dyona, SMA 1 Lb. Sikaping
2. Kemala Hayati, SMA 3 Bukittinggi
3. Muhammad Arif, SMA 1 Solok
4. Chairunnas, SMA 12 Padang
5. Rusman Ujang, SMA 10 Padang
6. Zulfikar, SMA 1 Baso,
7. Lucya Katherina, SMA 1 Payakumbuh
8. Dessi Iradany SMA 1 Sungayang
9. Darmawati, SMA 3 Bukittinggi

Rocky Hotel, 3 April 2012
1. Desi Arisandi, SMK 1 Solsel
2. Lilla Rama Dona, SMK 9 Padang
3. Mahmilub, SMK 1 Painan
4. Noor Hasanah, SMK 1 Solok
5. Yulfianis, SMK 1 Guguak, 50 Kota
6. Zikri, SMK 2 Payakumbuh
7. Edwinarty SMK 1 Guntal
8. Leli Amelia, SMK 1 Lb Basung, Agam
9. Ulfa Armayeni SMK 1 Batusangkar
10. Fitri Hariati, SMK 1 Pulaupunjung



Proposal Pembinaan RSBI /Sekolah Unggulan Kabupaten Dharmasraya Diajukan oleh : Drs. Fekry Nur, M.Ed.
Maret 2, 2012, 12:00 am
Filed under: Uncategorized

Kepada Yth:
Bupati Kabupaten Dharmasraya,
di Pulaupunjung

Saya menghaturkan terima kasih atas kesediaan bapak Bupati menerima proposal saya ini, dengan harapan, bapak dapat mempertimbangkan saya menjadi konsultan pendidikan di kabupaten Dharmasraya. Untuk itu saya langsung saja kepada pokok perhatian kita berikut:

1. Kondisi Pendidikan Indonesia berada pada posisi paling rendah dibandingkan dengan pendidikan di berbagai negara tetangga kita. Sebagai akibatnya indeks pembangunan sumberdaya manusia (HDI) Indonesia, menurut pengumuman PBB, baru berada pada peringkat: 121. Berbagai usaha pemerintah, secara nasional, telah dilakukan untuk memperbaiki mutu pendidikan, namun hal itu belum juga berhasil mengangkat mutu SDM kita secara nasional. Sebagai bahagian dari sistem pendidikan nasional posisi Propinsi Sumatera Barat, di mana kabupaten Dharmasraya menjadi bahagiannya, mungkin belum berada pada peringkat terbaik dalam penanganan pendidikan bagi wargadidiknya.

2. Pembenahan kondisi pelaksanaan pendidikan di sekolah, dalam berbagai tingkat: SD, SMP, SMA dan SMK, di seluruh Indonesia, termasuk usaha perbaikan mutunya secara serentak terus-menerus dilakukan. Akan tetapi mengingat terdapat ribuan SMA Negeri, puluhan ribu SMP Negeri, dan mungkin ratus-ribu-an SD Negeri di seluruh tanah air maka timbullah berbagai gagasan untuk melakukan pembinaan secara piloting. Sekolah yang dibina secara piloting ini muncul dengan berbagai julukan. Sebelum era reformasi bernama: SD, SMP, SMA Percobaan, Percontohan, Unggulan, Tahun 2005 sampai sekarang disebut sebagai: Sekolah Bilingual, RSBI, SBI. Keberadan RSBI dan SBI ini sesuai dengan apa yang dituntut oleh Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Akhir-akhir ini kritik pedas dan kecaman terhadap RSBI dan SBI semakin menguat. Ada pihak-pihak yang mengatakan ini sekolah mahal, diskriminatif dan hanya untuk kalangan orang ber-uang saja. Walaupun di lain pihak ada juga yang membela keberadaan RSBI/ SBI, bahwa sekolah itu tidak mesti hanya untuk yang kaya saja, karena sistim subsidi silang diberlakukan di sekolah mereka tetapi pembelaan itu tidak sekuat kritikan, yang dilontarkan banyak pihak.
3. Permasaalahan yang sebenarnya dalam pendidikan nasional, menurut saya, adalah:
a. Mutu proses belajar mengajar di sekolah kita rendah,
b. Mutu tenaga pengajar sangat bervariasi,
c. Sarana-prasarana kebanyakan sekolah kita belum memadai, dan
d. Manajemen (pendidikan) sekolah kita belum dikelola dengan cara yang benar.
4. Pemecahan atas permasalahan pendidikan nasional yang ruwet dan berskala besar ini hanya mungkin dapat dilakukan dengan pendekatan piloting, yaitu secara berangsur-angsur, namun focus dan serius. Tidak akan mungkin Indonesia melengkapi semua ke empat aspek besar permasalahan persekolahan, di atas, secara simultan, di semua sekolah yang ada. Seperti yang diamanatkan oleh undang Sisdiknas, masing-masing kabupaten kota, diharuskan mencoba menangani secara khusus sekolah piloting. Kalau cara pembinaan itu membuahkan perbaikan yang signifikan, seterusnya kita tinggal ‘meng-copy’ saja apa yang telah dilakukan di sekolah piloting di sekolah yang lainnya. Besar kemungkinan, masing-masing pemerintah di berbagai kabupaten dan kota akan dapat melakukan proses ini secara berulang-ulang dari satu sekolah ke sekolah lainnya, dengan mengerahkan potensi yang ada.
Yang dimaksud dengan pembinaan secara khusus di sini adalah: 1. perbaikan terhadap proses belajar di sekolah itu, 2. perikrutan tenaga pengajar dan atau peningkatan kemampuan SDM gurunya, 3. melengkapi sarana-prasarana, dan yang tidak kalah penting adalah: 4. rekrutmen dan peningkatan kecakapan kepala sekolahnya, yang benar.
5. Konsultan Pendidikan Kabupaten Dharmasraya.
1) Bila posisi ini ada, maka sebaiknya personel konsultan itu memenuhi kriteria minimal sbb:
a. Guru matapelajaran yang berpengalaman min. 10 tahun,
b. Pernah menjabat jabatan struktural di Dinas Pendidikan,
c. Berwawasan internasional (negara OECD), dibuktikan dengan Ijazah, atau Sertifikat dari institusi pendidikan salah satu negera tersebut.
d. Mendapat surat rekomendasi dari pimpinannya terdahulu.
2) Adapun yang menjadi tugas konsultan itu adalah:
Membantu Pemerintah Kabupaten (Dinas Pendidikan) dalam merancang dan mengawasi jalannya sekolah piloting seperti yang diharapkan.
3) Konsultan haruslah berkomitmen kuat dengan memenuhi tuntutan tugasnya sesuai kontrak kerja sedikitnya selama: empat (4) tahun pelajaran.

Padang, 28 Februari 2012.



Usul Untuk Kepala Disdikpora
Juli 9, 2011, 11:13 pm
Filed under: Uncategorized | Tag: ,

Tulisan ini disampaikan pertama kali kepada Kepala Dinas Pendidikan Sumbar pada tahun 2007, saya kira isinya masih relefan untuk kepala dinas yang sekarang.

Dengan hormat,

 

Barangkali Bapak Kepala dinas setuju dengan pandangan saya kalau tugas utama kantor kita adalah mengawal: pemerataan – perluasan kesempatan belajar, dan usaha peningkatan mutu. Ke depan, kita berharap tercapai suatu kesetaraan mutu hasil pendidikan di daerah kita dengan hasil pendidikan di negara lain. Paling tidak, kita dapat menempati posisi terkemuka dalam hal pembangunan pendidikan di negeri sendiri, Indonesia.

Untuk kemajuan kantor kita ke depan, izinkanlah saya mengusulkan beberapa hal sebagai berikut kepada Kepala Dinas

 

  1. LAPORAN TERTULIS

Hendaknya, setiap kali  seorang pejabat Dinas Pendidikan melakukan perjalanan dinas, dia harus membuat laporan tertulis, sebagai bahagian dari pertanggungjawaban atas kunjungan dinas yang dilakukannya. Laporan Perjalanan Dinas berisi: nama kegiatan, bentuk kegiatan, partisipan, substansi isi, dan follow-ups (termasuk tanggungjawab re-sosialisasi substansi masalah, dari hasil PD itu).

  1. TELAAH STAF 

Hendaknya, diadakan inventarisasi atau pencatatan dari semua TS yang masuk ke pimpinan. TS perlu dibukukan: pembuat, isi gagasan, waktu, disposisi, dan follow- ups-nya. Pencatatan TS dan Pengumpulan Laporan Tertulis Perjalanan dinas ini penting, tidak hanya sebagai salah satu alat ukur kemampuan inovasi dan kinerja para staf,  para pembantu Kadisdik, tetapi juga dapat dipakai sebagai refleksi kebijakan dan evaluasi kegiatan kantor di akhir tahun, kelak.

  1. PENANGANAN BERDASAR SPESIALISASI

Walaupun semua staf dan pejabat diharapkan untuk mampu berpikir global, untuk kemajuan pendidikan secara keseluruhan , namun hendaknya untuk bertindak harus ada pembahagian tugas yang jelas dari semua subdin, pajabat dan staf di bawahnya sesuai dengan dua (2) kegiatan utama kantor dalam pembinaan pendidikan (yang dilakukan), yaitu: pemerataan – perluasan kesempatan belajar, dan usaha peningkatan mutu. Pembagian ini  perlu diperjelas di tingkat Subdin, sehingga dua usaha yang saling mendukung namun sifat penanganannya sangat berbeda, secara teknis itu, dapat ditangani oleh staf (struktural maupun fungsional) yang berkemampuan mumpuni di bidangnya, di tiap subdin.

 

Agar lebih tajam dan terarah, khusus untuk pembinaan usaha peningkatan mutu pembelajaran di kelas, sebetulnya hal ini dapat dibagi lagi kedalam tiga kelompok besar disiplin ilmu yang tidak bisa dikuasai oleh satu kelompok orang (guru) sekaligus. Ketiga kelompok ilmu itu  adalah: kelompok Matematika dan Natural Science, kelompok Ilmu Bahasa, dan kelompok Ilmu Sosial – Keagamaan. Ketiga kelompok ilmu ini dilandasi oleh teori dasar keilmuan dan nuansa ilmiah yang berlainan, dan juga mempunyai dasar teori belajar yang berbeda.

 

Pejabat struktural yang menangani perluasan dan pemerataan kesempatan belajar, yang banyak bergelut dibidang pengadaan prasarana dan sarana belajar, dapat dibantu oleh staf fungsional yang relefan seperti: pengawas yang ahli di bidang bangunan gedung, sarana dan alat bantu pembelajaran yang bernilai guna. Sementara Pejabat struktural yang terkait usaha peningkatan mutu pembelajaran di kelas dapat pula dibantu oleh kelompok staf fungsional yang menguasai ketiga kelompok ilmu tadi, (Mtmtk-Science, Bahasa, dan Sosial-Keagamaan)

Harus diakui bahwa, tidak satupun staf atau pejabat, baik mereka yang dari struktural maupun fungsional, menguasai cara-cara pembinaan kedua aspek, yang menjadi misi besar Disdik tadi; bahkan tidak untuk menguasai salah satunya (pembangunan fisik, atau mutu saja) secara tuntas. Ahli bangunan gedung sekolah belum tentu paham tentang alat atau media belajar; begitu pula ahli pembelajaran Matematika belum tentu menguasai pembelajaran Bahasa dan Ilmu Sosial-Keagamaan.

 

Re-Inventarisasi Staf

Agar dapat kedua hal itu ditangani oleh staf dan pejabat yang tepat, menurut: keahliannya, tupoksi dan posisinya – the right man on the right place, maka tentu diperlukan  re-inventarisasi dan pengelompokan semua staf sesuai dengan latar belakang keahliannya masing-masing. Dan dengan demikian,  kepada mereka dapat diserahkan urusan dua macam kegiatan pembinaan tadi ( perluasan dan peningkatan mutu), dengan tepat,  dalam bentuk penangannan satker oleh ‘ahlinya’.

Bila ini tidak dilakukan, maka kunjungan dan pembicaraan pejabat dan staf Dinas Pendidikan Propinsi ke kabupaten dan kota hanya akan di persepsi sebagai ‘guyonan gombal’ belaka.

 

Kita semua tahu, kalau kegiatan pembinaan baru dapat dilakukan oleh sebuah  institusi kedinasan apabila telah ada program yang didukung dana dan armada pembinaan yang kapabel, terdiri dari para ahli yang menguasai bidangnya.

Saya percaya bahwa usulan program pembinaan yang menggigit tidak akan mampu disusun, diajukan dan dikawal dengan sepenuh hati oleh mereka yang tidak begitu paham masalah. Wallahu a’lam.

 

Sekian, dan mohon maaf.

Terima kasih

 

Padang 14 Ramadhan 1428 H / 26 September 2007

Drs. Fekrynur, M.Ed., Pengawas Sekolah untuk Matpel Bahasa Inggris



Guru
Juli 9, 2011, 10:19 pm
Filed under: Serba-serbi | Tag:

Andaikan saya punya kekuasaan, kegunaan kekuasaanku itu, yang utama, adalah untuk perbaikan pendidikan. Negara kita jelas tertinggal dari negara tetangga sekitar. Ini sebahagian besar disebabkan kurang seriusnya kita mebenahi pendidikan. Ketidak seriusan itu kentara sekali, dan makin menjadi-jadi semenjak era otoda. Ini terlihat dari: 1. kurang pasnya cara perikrutan pejabat yang menangani pendidikan; guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, kepala dinas, dan para pembantunya 2. kurang seriusnya pengkajian dan tindak lanjut usaha pembenahan pendidikan, khususnya terkait soal proses belajar mengajar di kelas. 3. keringnya dunia pemerintahan, termasuk dari jajaran dinas pendidikan sendiri, dalam memberikan contoh pelaksanaan ‘akhlak mulia dan krakter terpuji’. a.d 1: Bila tidak menyerahkan sesuatu kepada ahlinya – tunggulah kehancuran, itu sudah di depan mata kita. Dikatakan; dinas pendidikan propinsi tidak mempunyai sekolah yang akan dibinanya langsung, tetapi dari dulu sampai sekarang dia masih saja menjadi rujukan dari sekolah di kab/ko, dan RSBI menjadi tanggungjawab pembinaannya, oleh karena itu para pejabat dan semua pengawas sekolahnya mestilah dirikrut, dan semaksimalnya mestilah dari mereka yang telah pernah menapaki semua anak tangga kependidikan: guru, wali kelas, wakil, kepsek, guru inti, instruktur, pengawas, kasi, kabid, dan kepala dinas. Porto-folio mereka mestilah yang bernilai baik dan punya komitmen terhadap pekerjaannya. a.d 2: Perikrutan yang kurang baik berdampak kepada: ketidak-penguasaan permasalahan teknis bidang pendidikan, arogansi pejabat, tidak menghargai proses, pendangkalan permasalahan, sampai kepada penyepelean penanganan permasalahan pendidikan dan mubazir. Peserta didik menjadi jauh dari: keterampilan proses belajar dan membaca, penghargaan kepada kebersihan dan kesehatan, serta akhlak mulia dan karakter terpuji. a.d 3: Pekerjaan mendidik yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak bangsanya terutama adalah dengan: mencontohkan dalam bentuk ‘ketauladanan’ Lalu apa yang dilihat anak kita di televisi saban hari. Tontonan apa yang kita berikan selain dari: berita-berita tentang korupsi, suap-menyuap, pertengkaran politik, kekerasan terorisme, pembunuhan sadis, kecelakaan lalulintas dan gaya hidup glamour. Lalu apa usaha kita untuk ‘meredam’ ini di tingkat propinsi ranah Minang ? Bukankah ini harus ditangani secara lebih serius, bukan ditataran permukaan dan seremonial saja…? Kekuasaan, kami GURU, tidak ada sebesar itu…. Walaupun kami cukup ramai namun kami belum disatukan. Ilmu dan pengabdian kami bagai lidi sapu yang lepas dari ikatannya, mengais-ngais sendiri dengan lefu ditertawakan orang-orang. Bila ingin kami berbuat secara signifikan, berikan kami pemimpin yang menguasai bidang pendidikan dan mampu menyatukan kami, bukan yang gemar melecehkan GURU. Seb.Padang, 8 Mei 2011



Yayasan Rangkiang Kinari
Desember 4, 2009, 1:59 pm
Filed under: Serba-serbi

YRK  Kini

Fekrynur, Sekretaris YRK

Setelah enam tahun berkiprah sejak didirikan tahun 2003 lalu, kini YRK telah mulai menampakkan ‘hasil-nya’,  di wajah anak nagari Kinari.

Setidaknya ada beberapa orang anak nagari, yang tadinya berstatus pelajar dan mahasiswa kategori cukup pintar dan terancam tidak dapat bersekolah, kini telah menyelesaikan studinya. Beberapa dari mereka, yang terpantau, malah telah berstatus sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS). Ini suatu hal yang sangat menggembirakan.

Dari kunjungan pengurus YRK ke Kinari, di hari raya Idul Adha 1430 lalu, ditemui:  

Tarmizi, S.Ag.

PNS di Kantor Bupati Dharmasraya, Bag. Kesra, tmt.2009 Dia adalah Alumni IAIN Imam Bonjol Padang, yang tadinya penerima beasiswa PAGI, pendahulu YRK

 

Anik Susilawati, S.Pd. yang alumni Jurusan Bhs Indonesia UNP menjadi

PNS, SMP 43 Sijunjung, di Kec. Kamang Baru, tmt 2008, mulai aktif Feb 2009.




Tarmizi

“Gadang juo mamfaatnyo. Pitihnyo tibo tiok semester; kadang-kadang pitih dak ado di rumah”, ujar putri dari Bugih dan Nurlaili yang berdomisili di Sw. Sundi itu, ketika Pak Nota mengatakan: “Kemampuan YRK membantu baru sekedar untuk bantuan uang semesteran Rp.700.000 / semester. Belum cukup besar…”




Anik

 

Wilia Oktavera, Cucu Nayan, juga dari Sw. Sundi. Dia kuliah di Jur. Sosiologi Antropologi. Kami tak sempat ketemu dia, namun CPNS, Guru SMA di Mukomuko Bengkulu Utara, tmt 2009 ini sedang berada di Mukomuko waktu kami mau ke rumahnya.

Rika Yulia, Dipl. III, Aknt.  (Politeknik Unand) Binti Rajo Nan Kayo

Krywn: Saudara Motor, di Solok. “Manggaleh Honda” karajo-e…

Sebetulnya sudah cukup banyak juga dari anak asuk kita di YRK yang berhasil dalam sekolahnya dengan baik. Namun karena kurangnya informasi balik kepada kami; maka baru ini yang bisa kami sampaikan. Kita punya alumni dari Universitas Negeri Jember,dari Unpad, Univ. Bung Hatta, Sekolah Tinggi Ilmu Alquran Padang, STAIN Batusangkar, dan berbagai SMA MAN dan SMK juga tentunya.




Adik Si Anik

Diharapkan para alumni ini menjadi pemicu semangat bagi adik-adik mereka dalam keluarga dan lingkungan mereka masing-masing.

Di sini, kami munculkan dua wajah cerah penuh pengharapan atas nama: Nurmita dan adik kandung Anik Susilawati.




Nurmita

Nurmita adalah penerima beasiswa, tingkat SMA, yang baru saja memulai perkuliahannya di Akbid Solok. Sedangkan si Adik masih di SMA 2 Bukit

Sundi. Tentu Anik sudah harus belajar ‘menggendong’ pembiayaan adiknya yang kini masih di SMA itu, bukan…?




Nurmita 

 

Kepada para penyumbang dana, yang tak mungkin disebutkan namanya satu-persatu, termasuk yang menyumbang buah fikiran, seperti Pa’Osu Amiruddin Sose, yang fotonya kami tampilkan dalam artikel ini, kami haturkan terima kasih tak berhingga…

MAJULAH KINARI.



West Sumatra After Earthquake Attact
Oktober 22, 2009, 2:33 pm
Filed under: Pendidikan

Education is the most to suffer after the September 30th earthquake in West Sumatra. The most affected regions are Padang, the capital city, Pariaman city, District Padang Pariaman, District Agam, and Pesisir Selatan. Many school buildings collapsed, meanwhile after several months, in May 2010 students will have to go through the national exam.
Students of the collapsed schools have to study under plastic tents, that are hot during the school hours. The floors are wet and muddy in the rain. Students as well as their teachers find it hard to concentrate to the lessons. Learning resources are lost and or damadged in the earthquakes.

They really need helps and supports.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.