<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Better Education for Indonesia</title>
	<atom:link href="http://fekrynurbush.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fekrynurbush.wordpress.com</link>
	<description>Anything for better education in Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 15:03:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='fekrynurbush.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/9a2a9c48d1b41871d89cbd9faaf65b72?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Better Education for Indonesia</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>West Sumatra After Earthquake Attact</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2009/10/22/west-sumatra-after-earthquake-attact/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2009/10/22/west-sumatra-after-earthquake-attact/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 14:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fekrynurbush.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Education is the most to suffer after the September 30th earthquake in West Sumatra. The most affected regions are Padang, the capital city, Pariaman city, District Padang Pariaman, District Agam, and Pesisir Selatan. Many school buildings collapsed, meanwhile after several months, in May 2010 students will have to go through the national exam.
Students of the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=34&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Education is the most to suffer after the September 30th earthquake in West Sumatra. The most affected regions are Padang, the capital city, Pariaman city, District Padang Pariaman, District Agam, and Pesisir Selatan. Many school buildings collapsed, meanwhile after several months, in May 2010 students will have to go through the national exam.<br />
Students of the collapsed schools have to study under plastic tents, that are hot during the school hours. The floors are wet and muddy in the rain. Students as well as their teachers find it hard to concentrate to the lessons. Learning resources are lost and or damadged in the earthquakes.</p>
<p>They really need helps and supports.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=34&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2009/10/22/west-sumatra-after-earthquake-attact/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Capaian Nilai UN</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/12/07/meningkatkan-capaian-nilai-un/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/12/07/meningkatkan-capaian-nilai-un/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 16:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fekrynurbush.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Menurut saya, pertanyaan di atas harus segera dijawab; “Ya; dan harus mungkin..!”
Pemprov Sumbar mengalokasikan dana yang cukup besar untuk pendidikan, yang sejatinya adalah untuk peningkatan mutu. Tinggal lagi, bagaimana kita memamfaatkan dana itu dengan sebaik-baiknya.
Dalam tulisan pendek ini , saya ingin memberi batasan atas pengertian kata: ‘Mutu Pandidikan’ di atas sebatas pada; ‘peningkatan hasil nilai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=32&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Menurut saya, pertanyaan di atas harus segera dijawab; “Ya; dan harus mungkin..!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pemprov Sumbar mengalokasikan dana yang cukup besar untuk pendidikan, yang sejatinya adalah untuk peningkatan mutu. Tinggal lagi, bagaimana kita memamfaatkan dana itu dengan sebaik-baiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dalam tulisan pendek ini , saya ingin memberi batasan atas pengertian kata: <em>‘Mutu Pandidikan’</em> di atas sebatas pada; ‘peningkatan hasil nilai ujian nasional [UN] siswa se-Sumatra Barat, yang setiap tahun menjadi bahan pembicaraan umum. Sudah barang tentu, dengan harapan: suatu hari nanti, ‘mutu hasil pendidikan Sumatra Barat’ kembali mencuat di pentas pendidikan nasional, seiring meningkatnya rerata perolehan nilai UN siswanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Semenjak diberlakukan <em>otoda</em> (awal 2001) pembinaan pendidikan di tingkat: SD sampai dengan SLTA, di Sumatra Barat, dilakukan oleh pemerintah kabupaten-kota. Semenjak itu, <span> </span>semua kantor Departemen Pendidikan<span>  </span>( kantor Kandep Diknas) ditutup. Pegawainya di-integrasikan ke kantor Dinas Pendidikan kabupaten-kota; dan kebanyakan mereka menjadi:<span>  </span><em>‘gagik’</em>, atau gamang. Pegawai kantor Disdikpora di Propinsi, yang berintegrasi dari kantor wilayah Depdiknas dulu, bahkan merasa lebih gagik lagi, karena sekolah binaan mereka ‘sudah tidak ada lagi.’ Oleh sebab itu usaha meningkatkan hasil UN siswa di seluruh Sumatra Barat tidak dapat didorong maksimal oleh kantor Disdikpora Privinsi, terkait pe-negasian (melesapnya) hubungan struktural, dan kewenangan provinsi atas sekolah ‘ yang memang berlokasi di kabupaten-kota.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Karenanya, sebahagian petugas (pembina pendidikan) yang berkantor di Disdikpora Provinsi, merasa ‘tidak diterima’ saat berkunjung, melakukan pembinaan, ke sekolah-sekolah di kabupaten-kota. Bahkan, beberapa kasubdin Disdikpora Provinsi (sekarang: Kabid) berkata; “Koordinasi sulit untuk dapat dilakukan dengan kabupaten kota, karena para pejabat disdiknya mempunyai agenda pembinaan sekolah mereka sendiri-sendiri”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Halangan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Dinas Pendidikan kabupaten-kota bukan lagi merasa sebagai <span> </span><em>bawahan</em> Disdikpora Provinsi,</strong> dan barangkali, karena itu <em>enggan berkoordinasi</em> untuk berbagai kegiatan pembinaan pendidikan, yang dirancang dari provinsi; termasuk untuk berkoordinasi dalam usaha meningkatkan capaian hasil UN siswa, secara benar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Beda kantor</strong>. Sebutan nama kantor dinas dan berikut bidang bagian serta kasi-nya tidak selalu linier dengan struktur kantor (yang mengurus pendidikan), di level provinsi. Belum lagi kalau kita tilik lebih jauh kepada personel (pejabat) yang menduduki posisi terkait itu, baik itu personel yang ada di kantor kabupaten-kota, maupun yang di propinsi sendiri. <strong>Perbedaan latar belakang akademik maupun pengalaman kerja dari pejabat</strong> yang harus berkoordinasi dalam segmen atau bidang kerja yang sama di dua kantor (kab-ko dan provinsi) yang sama-sama mengurus masaalah kependidikan itu, tentu akan lebih mempersulit <em>komunikasi dan koordinasi </em>antar mereka. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Program pembinaan tidak sinkron.</strong> Antara pembinaan yang dilakukan <span> </span>Disdik kabupaten- kota, dan usaha pembinaan yang dilakukan oleh Disdik Provinsi sering tidak sejalan. Ketidaksinkronan ini, dalam beberapa hal diperjelek pula oleh pemerintah pusat, dalam hal ini oleh Depdiknas. Berbagai Direktorat, teknis di tingkat pusat, sering pula main potong kompas saja melakukan berbagai kegiatan pembinaan langsung ke sekolah sekolah di berbagai kota dan kabupaten.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Kepala Sekolah menjaga jarak dengan Disdikpora Provinsi </strong>demi untuk menjaga atau mengamankan posisi mereka di mata bupati dan walikota. Dengan begitu usaha perbaikan mutu PBM di sekolahnya bisa terabaikan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kebanyakan <strong>kab-ko di Sumbar belum mempunyai kelompok Fungsional Pengawas Sekolah yang memadai kuantitas dan kualitasnya</strong>. Cara perikrutan pengawas sekolah di masing-masing kab-ko juga beragam. Ada kab-ko yang melakukan perikrutan pengawas tanpa kriteria yang jelas.<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kekuatan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Secara nasional, anggaran untuk Departemen Pendidikan dari tahun ke tahun, untuk di <em>‘distribusikan’</em> ke berbagai kabupaten-kota dan provinsi, berupa dana alokasi khusus [DAK], melalui berbagai proyek dan program nasional, selalu ditingkatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Berbanding terbalik dengan sikap sebahagian pejabat dan kepala sekolah<span>  </span>di kabupaten-kota terhadap petugas pembinaan pendidikan dari tingkat provinsi; <strong>pemerintah provinsi Sumatra Barat,</strong> malah,<strong> dalam tiga tahun terakhir ini terus menaikkan alokasi dana anggaran untuk Disdikprov hingga mencapai 20%, yang tadinya hanya 3,5 % saja.</strong> Peningkatan pengalokasian dana untuk sektor pendidikan melalui Disdikpora, yang nominalnya mencapai <strong>trilliunan rupiah</strong> itulah, yang antara lain, telah menghantarkan Sumbar menjadi penerima Penghargaan di tingkat nasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dalam kondisi ini, sebenarnya, Disdikpora Provinsi dianugerahi ‘power’ yang cukup besar. Kepala dinas-nya, tinggal tanya saja lagi;<span>  </span>”Pemko dan pemkab mana saja, dari 19 kab-ko Sumbar, yang<span>  </span>t i d a k<span>   </span>i n g i n<span>   </span>ikut mencicipi dana yang dialokasikan itu<span>  </span>?” Pemerintah kab-ko, yang terlalu arrogan untuk berkoordinasi diumumkan saja kepada khalayak Sumatra Barat; dengan begitu rakyat di kabupaten-kota mengetahui dan protes atas sikap arrogan bupati atau wako-nya. Di pihak lain, pemkab-ko yang menyikapi pengkoordinasian dengan baik akan ikut dalam perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pemprov, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Sumbar, <strong>mempunyai sumberdaya manusia yang cukup bagus di kalangan Kelompok Fungsional Pengawas Sekolah</strong>. Untuk diketahui bersama; tidak setiap provinsi di Indonesia mempunyai kelompok fungsional Pengawas Sekolah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kenyataan Lapangan </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tidak semua kabupaten-kota mempunyai capaian hasil UN yang bagus. Namun, dapat dipastikan bahwa mereka (bupati-wako), yang daerahnya selama ini menjadi <em>juru kunci setia</em> dalam peringkat perolehan nilai UN di tingkat Sumbar, tentu berkeinginan pula untuk memperbaiki diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Peningkatan Mutu Proses Belajar Mengajar (PBM), di kelas, adalah merupakan satu satunya cara ilmiah yang dapat ditempuh oleh masing-masing sekolah untuk dapat meningkatkan capaian hasil UN-nya.</strong> <span> </span>Cara lain seperti: men-drill siswa dengan berbagai soal ujian, pengaturan tempat duduk kala ujian agar siswa bisa saling contek, apalagi dengan memberikan kunci soal ujian dan <strong>perilaku curang lainnya tidak akan mampu mendongkrak hasil UN siswa yang dapat menjadi refleksi hasil belajar siswa, yang mencerdaskan.</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Makanya usaha yang harus dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan hasil UN siswa, tidak lain adalah: usaha untuk meningkatkan mutu PBM di kelas. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu PBM yang paling baik adalah melalui usaha meningkatkan kemampuan guru mengelola PBM dengan mempertinggi: <strong>penguasaan mereka terhadap matapelajaran yang diajarkan</strong>, serta <strong>kemampuan membelajarkan siswanya. <span> </span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Pemerintah provinsi yang mempunyai data akurat</strong> tentang capaian hasil UN, melalui Puskom (pusat pemeriksaan UN, <em>computerized system</em>)<span>  </span>per-mata pelajaran, per-sekolah, per-masing-masing kabupaten kota tentu bisa langsung membidik kesasaran: mana saja matapelajaran yang PBM-nya bermasalah, di sekolah mana dan kabupaten-kota mana?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Bila<span>  </span>itu telah diketahui, tinggal lagi pembentukan tim pembinaan PBM di tingkat provinsi, untuk kemudian disusun program peningkatan mutu PBM. Program pembinaan ini bisa dilakukan langsung <em>on the spot</em>, di masing-masing kabupaten dan kota, atau terpusat di kota provinsi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Putusan untuk mengadakan ‘pelatihan’, atau usaha perbaikan apapun <em>on the spot</em> atau terpusat di kota provinsi tentu harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek efektifitas dan efisiensi. Yang penting ini dilakukan oleh tim yang professional dan akuntabel bentukan Disdikpora Provinsi, sebagai SKPD yang diserahi wewenang di provinsi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pernyataan bahwa; koordinasi dengan pemkot dan pemkab sulit’ tidak seluruhnya benar. Bila terkait dengan pembinaan PBM terhadap guru matapelajaran, apabila pemprov telah mengalokasikan dana yang relative cukup untuk berbagai kegiatan dimaksud, dapat dipastikan bahwa semua kab-ko akan berlomba-lomba untuk mengirim gurunya. Terlebih kalau pelatihan atau kegiatan itu memang bermutu dan bernilai tambah untuk para guru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Contohnya,<span>  </span>kegiatan Disdikpora Provinsi berupa: English Club dan Program Guru MIPA Magang Ke Australia, semenjak dua tahun terakhir, ternyata cukup mendapat sambutan positif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kapankah Disdikpora akan meluncurkan program pembinaan PBM untuk guru Bahasa Indonesia, IPS, dan mata pelajaran lainnya? Mereka, para guru di kab-ko, menunggu program professional development yang benar-benar menyentuh, di samping program sosialisasi KTSP yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Program KTSP adalah <em>program bingkai-bingkai</em> yang perlu diisi dengan: content, keahlian didaktik metodik yang tidak kalah pentingnya. Disamping bisa membuat Syllabus dan RPP dalam bingkai ke-KTSP-an, diperlukan pula misalnya: guru bahasa Inggris yang benar-benar mampu berkomunikasi bahasa Inggris, guru MIPA dan mata pelajaran lain yang memahami konsep dan skill yang ada dalam content matapelajaran yang mereka ampu. Program belajar tambahan bagi siswa kelas tiga (SMP dan SMA), yang disokong dananya tiap tahun dengan dana APBD, bila ditangani oleh guru yang berkemampuan <em>sama dengan</em> belum tentu akan menarik siswa untuk mau belajar, apa lagi bila diharapkan akan mampu menggenjot nilai UN siswa secara signifikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Saya juga ingin bertanya tentang seberapa tinggi tingkat <em>kerelaan</em> pemerintah daerah dan DPRD Sumatera Barat untuk benar-benar menggunakan anggaran sebesar 20% itu untuk sebesar-besar usaha memajukan pendidikan di ranah bundo ini? Tertumpang salam dan tanya untuk kepala Disdikpora dalam hal seberapa committed beliau untuk<span>  </span>mendayagunakan tenaga terbaik yang ada, dan bisa diadakan, untuk usaha di atas?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Padang, 07- 12 – 2008</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wassalam<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">&#8211; &#8212; &#8211; &#8212; &#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">*<strong>Penulis</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Adalah: Pengawas Sekolah di Disdikpora Sumbar</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">16 tahun menjadi guru bahasa Inggris SMA, dan </span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Mengajar di kamp Pengungsi Pulau Galang Riau, 1983,</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Memperkenalkan Bhs Indonesia di 10 buah sekolah Australia, (April – Juli 1993)</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Instruktu PKG Bhs Inggris Sumbar, 1994 &#8211; 1996</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Tamatan M.Ed St.</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;"> Curtin University, WA</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;">. 1997</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Kasubdin Dikdasmen di Disdik Kab. Solok, 2001</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Pembina English Club SMA Sumbar sejak tahun 2006</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><strong><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pimpinan Guru MIPA Magang ke Australia, Juli – Agustus<span>  </span>2008<span>  </span></span></span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=32&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/12/07/meningkatkan-capaian-nilai-un/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/12/07/31/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/12/07/31/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 15:43:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/12/07/31/</guid>
		<description><![CDATA[Peningkatan ‘Mutu Pendidikan’
Oleh Pemprov Sumbar Di Era Otoda Mungkinkah?
Fekrynur*
 
Menurut saya, pertanyaan di atas harus segera dijawab; “Ya; dan harus mungkin..!”
Pemprov Sumbar mengalokasikan dana yang cukup besar untuk pendidikan, yang sejatinya adalah untuk peningkatan mutu. Tinggal lagi, bagaimana kita memamfaatkan dana itu dengan sebaik-baiknya.
Dalam tulisan pendek ini , saya ingin memberi batasan atas pengertian kata: ‘Mutu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=31&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:18pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Peningkatan ‘<em>Mutu Pendidikan’</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:18pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh Pemprov Sumbar Di Era Otoda Mungkinkah?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Fekrynur*</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Menurut saya, pertanyaan di atas harus segera dijawab; “Ya; dan harus mungkin..!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pemprov Sumbar mengalokasikan dana yang cukup besar untuk pendidikan, yang sejatinya adalah untuk peningkatan mutu. Tinggal lagi, bagaimana kita memamfaatkan dana itu dengan sebaik-baiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dalam tulisan pendek ini , saya ingin memberi batasan atas pengertian kata: <em>‘Mutu Pandidikan’</em> di atas sebatas pada; ‘peningkatan hasil nilai ujian nasional [UN] siswa se-Sumatra Barat, yang setiap tahun menjadi bahan pembicaraan umum. Sudah barang tentu, dengan harapan: suatu hari nanti, ‘mutu hasil pendidikan Sumatra Barat’ kembali mencuat di pentas pendidikan nasional, seiring meningkatnya rerata perolehan nilai UN siswanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Semenjak diberlakukan <em>otoda</em> (awal 2001) pembinaan pendidikan di tingkat: SD sampai dengan SLTA, di Sumatra Barat, dilakukan oleh pemerintah kabupaten-kota. Semenjak itu, <span> </span>semua kantor Departemen Pendidikan<span>  </span>( kantor Kandep Diknas) ditutup. Pegawainya di-integrasikan ke kantor Dinas Pendidikan kabupaten-kota; dan kebanyakan mereka menjadi:<span>  </span><em>‘gagik’</em>, atau gamang. Pegawai kantor Disdikpora di Propinsi, yang berintegrasi dari kantor wilayah Depdiknas dulu, bahkan merasa lebih gagik lagi, karena sekolah binaan mereka ‘sudah tidak ada lagi.’ Oleh sebab itu usaha meningkatkan hasil UN siswa di seluruh Sumatra Barat tidak dapat didorong maksimal oleh kantor Disdikpora Privinsi, terkait pe-negasian (melesapnya) hubungan struktural, dan kewenangan provinsi atas sekolah ‘ yang memang berlokasi di kabupaten-kota.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Karenanya, sebahagian petugas (pembina pendidikan) yang berkantor di Disdikpora Provinsi, merasa ‘tidak diterima’ saat berkunjung, melakukan pembinaan, ke sekolah-sekolah di kabupaten-kota. Bahkan, beberapa kasubdin Disdikpora Provinsi (sekarang: Kabid) berkata; “Koordinasi sulit untuk dapat dilakukan dengan kabupaten kota, karena para pejabat disdiknya mempunyai agenda pembinaan sekolah mereka sendiri-sendiri”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Halangan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Dinas Pendidikan kabupaten-kota bukan lagi merasa sebagai <span> </span><em>bawahan</em> Disdikpora Provinsi,</strong> dan barangkali, karena itu <em>enggan berkoordinasi</em> untuk berbagai kegiatan pembinaan pendidikan, yang dirancang dari provinsi; termasuk untuk berkoordinasi dalam usaha meningkatkan capaian hasil UN siswa, secara benar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Beda kantor</strong>. Sebutan nama kantor dinas dan berikut bidang bagian serta kasi-nya tidak selalu linier dengan struktur kantor (yang mengurus pendidikan), di level provinsi. Belum lagi kalau kita tilik lebih jauh kepada personel (pejabat) yang menduduki posisi terkait itu, baik itu personel yang ada di kantor kabupaten-kota, maupun yang di propinsi sendiri. <strong>Perbedaan latar belakang akademik maupun pengalaman kerja dari pejabat</strong> yang harus berkoordinasi dalam segmen atau bidang kerja yang sama di dua kantor (kab-ko dan provinsi) yang sama-sama mengurus masaalah kependidikan itu, tentu akan lebih mempersulit <em>komunikasi dan koordinasi </em>antar mereka. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Program pembinaan tidak sinkron.</strong> Antara pembinaan yang dilakukan <span> </span>Disdik kabupaten- kota, dan usaha pembinaan yang dilakukan oleh Disdik Provinsi sering tidak sejalan. Ketidaksinkronan ini, dalam beberapa hal diperjelek pula oleh pemerintah pusat, dalam hal ini oleh Depdiknas. Berbagai Direktorat, teknis di tingkat pusat, sering pula main potong kompas saja melakukan berbagai kegiatan pembinaan langsung ke sekolah sekolah di berbagai kota dan kabupaten.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Kepala Sekolah menjaga jarak dengan Disdikpora Provinsi </strong>demi untuk menjaga atau mengamankan posisi mereka di mata bupati dan walikota. Dengan begitu usaha perbaikan mutu PBM di sekolahnya bisa terabaikan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kebanyakan <strong>kab-ko di Sumbar belum mempunyai kelompok Fungsional Pengawas Sekolah yang memadai kuantitas dan kualitasnya</strong>. Cara perikrutan pengawas sekolah di masing-masing kab-ko juga beragam. Ada kab-ko yang melakukan perikrutan pengawas tanpa kriteria yang jelas.<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kekuatan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Secara nasional, anggaran untuk Departemen Pendidikan dari tahun ke tahun, untuk di <em>‘distribusikan’</em> ke berbagai kabupaten-kota dan provinsi, berupa dana alokasi khusus [DAK], melalui berbagai proyek dan program nasional, selalu ditingkatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Berbanding terbalik dengan sikap sebahagian pejabat dan kepala sekolah<span>  </span>di kabupaten-kota terhadap petugas pembinaan pendidikan dari tingkat provinsi; <strong>pemerintah provinsi Sumatra Barat,</strong> malah,<strong> dalam tiga tahun terakhir ini terus menaikkan alokasi dana anggaran untuk Disdikprov hingga mencapai 20%, yang tadinya hanya 3,5 % saja.</strong> Peningkatan pengalokasian dana untuk sektor pendidikan melalui Disdikpora, yang nominalnya mencapai <strong>trilliunan rupiah</strong> itulah, yang antara lain, telah menghantarkan Sumbar menjadi penerima Penghargaan di tingkat nasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dalam kondisi ini, sebenarnya, Disdikpora Provinsi dianugerahi ‘power’ yang cukup besar. Kepala dinas-nya, tinggal tanya saja lagi;<span>  </span>”Pemko dan pemkab mana saja, dari 19 kab-ko Sumbar, yang<span>  </span>t i d a k<span>   </span>i n g i n<span>   </span>ikut mencicipi dana yang dialokasikan itu<span>  </span>?” Pemerintah kab-ko, yang terlalu arrogan untuk berkoordinasi diumumkan saja kepada khalayak Sumatra Barat; dengan begitu rakyat di kabupaten-kota mengetahui dan protes atas sikap arrogan bupati atau wako-nya. Di pihak lain, pemkab-ko yang menyikapi pengkoordinasian dengan baik akan ikut dalam perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pemprov, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Sumbar, <strong>mempunyai sumberdaya manusia yang cukup bagus di kalangan Kelompok Fungsional Pengawas Sekolah</strong>. Untuk diketahui bersama; tidak setiap provinsi di Indonesia mempunyai kelompok fungsional Pengawas Sekolah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kenyataan Lapangan </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tidak semua kabupaten-kota mempunyai capaian hasil UN yang bagus. Namun, dapat dipastikan bahwa mereka (bupati-wako), yang daerahnya selama ini menjadi <em>juru kunci setia</em> dalam peringkat perolehan nilai UN di tingkat Sumbar, tentu berkeinginan pula untuk memperbaiki diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Peningkatan Mutu Proses Belajar Mengajar (PBM), di kelas, adalah merupakan satu satunya cara ilmiah yang dapat ditempuh oleh masing-masing sekolah untuk dapat meningkatkan capaian hasil UN-nya.</strong> <span> </span>Cara lain seperti: men-drill siswa dengan berbagai soal ujian, pengaturan tempat duduk kala ujian agar siswa bisa saling contek, apalagi dengan memberikan kunci soal ujian dan <strong>perilaku curang lainnya tidak akan mampu mendongkrak hasil UN siswa yang dapat menjadi refleksi hasil belajar siswa, yang mencerdaskan.</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Makanya usaha yang harus dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan hasil UN siswa, tidak lain adalah: usaha untuk meningkatkan mutu PBM di kelas. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu PBM yang paling baik adalah melalui usaha meningkatkan kemampuan guru mengelola PBM dengan mempertinggi: <strong>penguasaan mereka terhadap matapelajaran yang diajarkan</strong>, serta <strong>kemampuan membelajarkan siswanya. <span> </span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Pemerintah provinsi yang mempunyai data akurat</strong> tentang capaian hasil UN, melalui Puskom (pusat pemeriksaan UN, <em>computerized system</em>)<span>  </span>per-mata pelajaran, per-sekolah, per-masing-masing kabupaten kota tentu bisa langsung membidik kesasaran: mana saja matapelajaran yang PBM-nya bermasalah, di sekolah mana dan kabupaten-kota mana?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Bila<span>  </span>itu telah diketahui, tinggal lagi pembentukan tim pembinaan PBM di tingkat provinsi, untuk kemudian disusun program peningkatan mutu PBM. Program pembinaan ini bisa dilakukan langsung <em>on the spot</em>, di masing-masing kabupaten dan kota, atau terpusat di kota provinsi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Putusan untuk mengadakan ‘pelatihan’, atau usaha perbaikan apapun <em>on the spot</em> atau terpusat di kota provinsi tentu harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek efektifitas dan efisiensi. Yang penting ini dilakukan oleh tim yang professional dan akuntabel bentukan Disdikpora Provinsi, sebagai SKPD yang diserahi wewenang di provinsi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pernyataan bahwa; koordinasi dengan pemkot dan pemkab sulit’ tidak seluruhnya benar. Bila terkait dengan pembinaan PBM terhadap guru matapelajaran, apabila pemprov telah mengalokasikan dana yang relative cukup untuk berbagai kegiatan dimaksud, dapat dipastikan bahwa semua kab-ko akan berlomba-lomba untuk mengirim gurunya. Terlebih kalau pelatihan atau kegiatan itu memang bermutu dan bernilai tambah untuk para guru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Contohnya,<span>  </span>kegiatan Disdikpora Provinsi berupa: English Club dan Program Guru MIPA Magang Ke Australia, semenjak dua tahun terakhir, ternyata cukup mendapat sambutan positif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kapankah Disdikpora akan meluncurkan program pembinaan PBM untuk guru Bahasa Indonesia, IPS, dan mata pelajaran lainnya? Mereka, para guru di kab-ko, menunggu program professional development yang benar-benar menyentuh, di samping program sosialisasi KTSP yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Program KTSP adalah <em>program bingkai-bingkai</em> yang perlu diisi dengan: content, keahlian didaktik metodik yang tidak kalah pentingnya. Disamping bisa membuat Syllabus dan RPP dalam bingkai ke-KTSP-an, diperlukan pula misalnya: guru bahasa Inggris yang benar-benar mampu berkomunikasi bahasa Inggris, guru MIPA dan mata pelajaran lain yang memahami konsep dan skill yang ada dalam content matapelajaran yang mereka ampu. Program belajar tambahan bagi siswa kelas tiga (SMP dan SMA), yang disokong dananya tiap tahun dengan dana APBD, bila ditangani oleh guru yang berkemampuan <em>sama dengan</em> belum tentu akan menarik siswa untuk mau belajar, apa lagi bila diharapkan akan mampu menggenjot nilai UN siswa secara signifikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Saya juga ingin bertanya tentang seberapa tinggi tingkat <em>kerelaan</em> pemerintah daerah dan DPRD Sumatera Barat untuk benar-benar menggunakan anggaran sebesar 20% itu untuk sebesar-besar usaha memajukan pendidikan di ranah bundo ini? Tertumpang salam dan tanya untuk kepala Disdikpora dalam hal seberapa committed beliau untuk<span>  </span>mendayagunakan tenaga terbaik yang ada, dan bisa diadakan, untuk usaha di atas?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Padang, 07- 12 – 2008</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wassalam<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">&#8211; &#8212; &#8211; &#8212; &#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">*<strong>Penulis</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Adalah: Pengawas Sekolah di Disdikpora Sumbar</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">16 tahun menjadi guru bahasa Inggris SMA, dan </span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Mengajar di kamp Pengungsi Pulau Galang Riau, 1983,</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Memperkenalkan Bhs Indonesia di 10 buah sekolah Australia, (April – Juli 1993)</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Instruktu PKG Bhs Inggris Sumbar, 1994 &#8211; 1996</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Tamatan M.Ed St.</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;"> Curtin University, WA</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;">. 1997</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Kasubdin Dikdasmen di Disdik Kab. Solok, 2001</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Pembina English Club SMA Sumbar sejak tahun 2006</span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 39pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &quot;">         </span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:10pt;">Pimpinan Guru MIPA Magang ke Australia, Juli – Agustus<span>  </span>2008<span>  </span></span></strong><span style="font-size:10pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=31&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/12/07/31/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Magang Guru MIPA SBI Sumbar, Dihentikan Mendagri ?</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/09/24/magang-guru-mipa-sbi-sumbar-dihentikan-mendagri/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/09/24/magang-guru-mipa-sbi-sumbar-dihentikan-mendagri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 04:09:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fekrynurbush.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[
Guru Sumbar tak Boleh Magang ke LN
Padang, Gubernur Sumatra Barat (Sumbar), Gamawan Fauzi mengungkapkan, program magang dan studi banding sejumlah guru daerah ini ke luar negeri tidak diizinkan oleh Departemen Dalam Negeri (Depdagri). “Pada dasarnya program yang ditujukan untuk peningkatan mutu pendidikan dan tenaga pendidik itu tidak diperkenankan Depdagri,” kata Gamawan di Padang, Minggu. Program [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=19&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="snap_preview">
<h3>Guru Sumbar tak Boleh Magang ke LN</h3>
<p><img class="alignleft" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:J9f8js558mDmQM:http://www.pontianakpost.com/images/Gamawan-Fauzi-f.jpg" alt="" width="142" height="130" />Padang, Gubernur Sumatra Barat (Sumbar), Gamawan Fauzi mengungkapkan, program magang dan studi banding sejumlah guru daerah ini ke luar negeri tidak diizinkan oleh Departemen Dalam Negeri (Depdagri). “Pada dasarnya program yang ditujukan untuk peningkatan mutu pendidikan dan tenaga pendidik itu tidak diperkenankan Depdagri,” kata Gamawan di Padang, Minggu. Program yang akan didanai APBD Sumbar 2008 itu menjadi salah satu kegiatan yang dikoreksi oleh Depdagri dan anggarannya diminta untuk dialihkan mendanai kegiatan dalam rangka peningkatan layanan dasar kepada masyarakat.</p>
<p>Sebelumnya, Pemprov Sumbar dalam pembahasan APBD 2008 mengajukan program peningkatan mutu pendidikan dan tenaga pendidik dengan mengikuti magang di Australia. Magang itu akan diberikan kepada guru-guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada satuan pendidikan bertaraf internasional. Selain itu juga diprogramkan studi banding guru bertaraf internasional dari Sumbar ke Beijing, Cina. Namun dua kegiatan itu tidak diperkenankan Depdagri, kata gubernur.</p>
<p>Atas kebijakan Depdagri itu, Pemprov Sumbar telah memberikan penjelasan dan disarankan oleh Depdagri untuk dilakukan rasionalisasi dengan tetap mempedomani Surat Edaran Mendagri No.098/3210/SJ tanggal 15 Desember 2004 perihal perjalanan dinas ke luar negeri.</p>
<p>Kemudian disarankan mempedomani Permendagri No.20/2005 tentang perjalanan dinas ke luar negeri bagi pejabat, pegawai di lingkungan Depdagri, pemerintah daerah, pimpinan dan anggota DPRD. Selain itu, harus mempedomani Instruksi Presiden No.11/2005 tentang perjalanan dinas ke luar negeri, tambah gubernur. Demikian Antara [<a href="http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=3413&amp;Itemid=287" target="_blank"><span style="color:#7f1d1d;">Singgalang, 22 September 2008</span></a>]</p>
<p><strong>Tanggapan Ketua Rombongan Magang</strong></p>
<p>Mestinya, orang daerah yang menginginkan kemajuan di bidang pendidikan dasar dan menengah tidak menerima begitu saja &#8216;aturan mendagri&#8217; yang dikutip gubernur Gamawan Fauzi tersebut. Berikut penjelasan saya:</p>
<p>1. Dana APBD Propinsi Sumatra Barat yang dialokasikan melalui Disdik<br />
Prop Sumbar melalui Unit Satuan Kerja Propinsi itu adalah untuk<br />
Membina Pendidikan Dasar dan Menengah (SD, SMP dan SMA/SMK), yang<br />
bisa diperluas juga untuk PAUD dan PLS. Namun yang disebut kedua<br />
terakhir ini hanya diberi porsi tambahan saja dari porsi utama.<br />
Yang mengherankan saya adalah: adanya Disdik Prop bagi-bagi beasiswa<br />
S2 dan S3 bagi dosen dari PTN dan PTS yang ada di Sumbar, padahal<br />
pengiriman guru magang ke LN katanya akan di larang. Sepertinya,<br />
belanja anak kandung dikurang-kurangi guna dapat membiayai anak tiri.</p>
<p>2. Untuk tahun 2008 ini kita telah melakukan magang ke Perth, dengan<br />
mengirim 19 orang guru MIPA SBI Sumbar. Diharapkan kita dapat<br />
melakukan itu lagi di tahun- tahun anggaran 2009 dst. Kalau benar,<br />
anggaran yang dikelola Disdik Prop untuk pendidikan dasar dan<br />
menengah, khususnya sekolah yang &#8216;bertaraf internasional&#8217; yang<br />
pembinaannya berada di bawah Pemerintahan Provinsi.</p>
<p>3. Akan tetapi kita tersandung oleh aturan Mendagri tentang<br />
pelarangan pejabat melakukan perjalanan ke luar negeri, seperti yang<br />
dikatakan gubernur Gamawan Fauzi. Saya bisa paham tentang aturan itu<br />
sepanjang itu pembatasan untuk pejabat pemerintahan; camat, sekda,<br />
dan anggota DPRD. Saya tidak mengerti sampai dimana pemahaman<br />
Mendagri tentang usaha memajukan pendidikan? Kenapa dia mengatur<br />
perjalanan guru yang telah diatur juga oleh Mendiknas. Mungkinkah<br />
karena ini terkait aturan APBD harus di setujui Mendagri terlebih<br />
dahulu? Adakah wewenang mendagri mencampuri pengeluaran APBD, item<br />
per-item?</p>
<p>Terima kasih.<br />
Fekrynur,<br />
Pengawas Sekolah Disdik Provinsi</p>
<p><strong>Berbagai tanggapan di milinglist Komunitas Pemerhati Pendidikan (Pakguruonline)</strong></p>
<p>From: Zamris Habib &lt;zamrish@&#8230;&gt;<br />
Subject: [pakguruonline] Guru Sumbar tak Boleh Magang ke LN<br />
To: pakguruonline@yahoogroups.com<br />
Date: Tuesday, September 23, 2008, 1:32 PM</p>
<p>Pak Fekri, dan kawan2 Yth<br />
Membaca keluhan2 dengan tidak diizinkannya guru2 untuk mengikuti training di LN saya hanya ingin mengingat kembalikepada Bapak Pemda bagaimana rencana pembangunan strategis yang dilaksanakan oleh Malaysia di tahun 70an. Mereka mengirimkan antara 10 sd. 20 % guru mereka ke  berbagai negara secara bertahap (setiap tahun), untuk mengisi kekosongan mereka datangkan guru2 dari Indonesia. Lihat sekarang hasilnya bukan main, SDM kita jauh tertinggal dari Malaysia yang di tahun 70an kita lebih unggul dari mereka.. Kenapa Pemda  tidak merencanakan mengirim setiap tahun 10 &#8211; 20 % guru2 kita ke  berbagai negara sesuai dengan bidang studi mereka. Memang hasilnya baru bisa dilihat 15 tahun kedepan, tidak bisa kita harapkan hasilnya pada waktu pemilihan Kepala Daerah yang akan datang. Apalagi saya pernah dengar Gubernur kita pernah mengatakan Sumbar adalah Pabrik Otak bukan Otot, tolong buktikan ?</p>
<p>Best Regards,<br />
Zamris Habib, Jakarta</p>
<p>http://educational- technology- forum.blogspot. com/<br />
http://zamrishabib. wordpress. com/</p>
<div id="yiv35457481">
<div id="ygrp-text">
<div>
<div style="font-size:8pt;font-family:arial, helvetica, sans-serif;">
<div class="subject root grey">Re: [pakguruonline] Guru Sumbar tak Boleh Magang ke LN</div>
<div class="msgarea">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<div>Ha, kalau begitu perlu ada yang bicara dengan Mendagri, kok aneh beliau melarang anggaran APBD untuk guru SD-SMP tapi boleh untuk dosen yang bergelar S2-S3.</div>
<div>Kita amanahkan tugas ini kepada <strong>pak Mochtar Naim</strong>, yang selain masih jadi anggota DPD juga sedang maju lagi sebagai caleg dalam Pemilu 2009. Kalau beliau berhasil memperjuangkan masalah ini dengan Mendagri, bisa dipertimbangkan untuk dipilih lagi.</div>
<div>Selain itu saya harapkan <strong>Ajo Indra Jaya Piliang</strong> mencoba &#8216;maresek&#8217; ke Depdagri. Bila berhasil, saya sarankan para guru di Dapil 2 Sumbar memilih beliau. <strong>Fastabiqul khairaat.<br />
</strong>Saya ingin agar guru SD dan SMP kita setaraf dengan di luar negeri, karena beliau-beliaulah yang akan meletakkan fondamen untuk kaum terpelajar kita di masa datang.</div>
<div>Untuk Pak Fasli Jalal, kan ada anggaran sendiri untuk pendidikan dosen ke S2 dan S3?</div>
<div><span style="font-family:arial;"><span style="font-size:x-small;">Wassalam,<br />
Saafroedin Bahar</span></span></div>
<div><span style="font-family:arial;"><span style="font-size:x-small;">(L, masuk 72 th, Jakarta)</span></span></div>
<div><span style="font-family:arial;">Alternate e-mail address: <a rel="nofollow" href="http://fekrynurbush.wordpress.com/group/pakguruonline/post?postID=Pg_LJW2EKmQJA4LsvMmc7dpHmPmzG-MqZdmHc2fecvVzHiLHDnuNlc-Bqkvz5awv2th4yqzem5xgfmNOsg" target="_blank"><span style="color:#247cd4;">saaf10leo@&#8230;</span></a>;</span></div>
<div><span style="font-family:arial;">saafroedin.bahar@&#8230;</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=19&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/09/24/magang-guru-mipa-sbi-sumbar-dihentikan-mendagri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:J9f8js558mDmQM:http://www.pontianakpost.com/images/Gamawan-Fauzi-f.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Magang Guru SMK Ke Australia (?)</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/05/12/magang-guru-smk-ke-australia/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/05/12/magang-guru-smk-ke-australia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 01:59:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fekrynurbush.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Yth. Pak Burhasman Kadisdik Prop. Sumbar
Pak Fekrynur, Bapak/Ibu guru SMK Se Sumbar
Member milist PGO semuanya&#8230;
 
Team guru MIPA se Sumbar akan berangkat magang ke Australia&#8230; ..
 
Saya sebagai bagian dari komunitas guru yang berada di Sumbar sangat senang dan gembira mengetahui hal ini. Begitu besar perhatian para perantau minang baik yang bertugas sebagai pengambil kebijakan yang berada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=18&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>Yth. Pak Burhasman Kadisdik Prop. Sumbar</div>
<div>Pak Fekrynur, Bapak/Ibu guru SMK Se Sumbar</div>
<div>Member milist PGO semuanya&#8230;</div>
<div> </div>
<div>Team guru MIPA se Sumbar akan berangkat magang ke <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Australia</span>&#8230; ..</div>
<div> </div>
<div>Saya sebagai bagian dari komunitas guru yang berada di Sumbar sangat senang dan gembira mengetahui hal ini. Begitu besar perhatian para perantau minang baik yang bertugas sebagai pengambil kebijakan yang berada di <span class="yshortcuts" style="background:none transparent scroll repeat 0 0;cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Jakarta</span> maupun para perantau <em>nan bakureh mancari hiduik</em> <em>di rantau urang atau labiah tapeknyo di luar negeri.</em> </div>
<div><span id="more-18"></span>Kita bisa berbangga dengan adanya program ini, yang diharapkan akan lebih memajukan pendidikan di Sumatera Barat yang pada masa lalu juga sudah terkenal dengan industri otaknya ini, walaupun pada masa sekarang ini sama-sama kita ketahui kejayaan masa lalu itu agak memudar. Ini kesempatan dan program yang sangat bagus untuk bisa mengambalikan apa yang pernah kita capai pada masa lalu itu, dan juga untuk mengejar ketinggalan pendidikan di daerah kita dengan apa yang telah dicapai di daerah seberang sana.</div>
<div>Pada masa sekarang Depdiknas sangat gencar membuat program yang berlabel SBI tepatnya Sekolah Berstandar Internasional. Hal ini tak akan pernah tercapai kalau kemampuan bahasa inggris para guru yang menjadi ujung tombak dalam pendidikan ini masih berada dibawah standar, malah ada sebahagian guru-guru kita kalau sudah menghadapi literatur maupoun buku yang berbahasa Inggris langsung seperti menjadi takut, bukunya langsung ditutup kembali lalu mencari buku-buku lain yang berbahasa <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span>.</div>
<div>Bagaimana standar internasional akan tercapai kalau kondisinya seperti ini ???</div>
<div>Nah, langkah awal sudah dimulai melalui program memagangkan guru MIPA menuju <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Australia</span>, tentunya kalau guru MIPA itu ditujukan untuk guru SMA seperti yang dapat kita ketahui asal tugas guru-guru yang akan berangkat ini.</div>
<div> </div>
<div>Saya sebagai salah seorang guru yang bertugas di SMK Negeri 1 <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bukittinggi</span>, pada kesempatan ini  ikut menyampaikan semacam keinginan kepada para petinggi di Dinas Pendidikan Prop Sumbar, kalau program ini untuk kedepannya juga diikutkan para guru yang mengajar di SMK baik negeri maupun swasta. Sama-sama kita ketahui bahwa di SMK juga ada program SBI, dan sekolah kami SMKN 1 <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bukittinggi</span> saat ini termasuk dalam program tersebut. Dalam program SBI ini, disyaratkan ada mata diklat praktek yang diajarkan memakai bahasa pengantar bahasa Inggris. Dan juga ada diantara gurunya yang pernah magang di perusahaan asing atau magang di perusahaan luar negeri. Namun sampai saat ini belum ada seorangpun dari guru-gurunya yang pernah magang di luar negeri. Sampai saat ini yang sering bolak balik ke luar negeri adalah Kepala sekolah yang sudah beberapa kali bersama Kepala Sekolah lainnya ke Jepang dan negara lainnya yang saya ketahui lebih banyak tujuannya adalah untuk jalan-jalan, belum ada implementasi dari hasil kunjungan keluar negeri tersebut terhadap sekolah.</div>
<div> </div>
<div>Pada kesempatan ini, saya mengharapkan ada program dari Dinas Pendidikan propinsi untuk memagangkan para guru SMK ke luar negeri, dan sebelumnya para guru-guru ini di beri pelatihan untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris mereka sampai bisa mencapai standar yang dibutuhkan agar mereka bisa berkomunikasi dengan orang luar memakai bahasa inggris tentunya. Dan sebaiknya diprioritaskan untuk sekolah-sekolah yang mendapat program SBI, gar program SBI ini dapat mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan.</div>
<div> </div>
<div>Kepada Bapak/Ibu guru yang akan berangkat,  saya ucapkan selamat jalan semoga selamat pergi dan pulangnya, serta mendapatkan tambahan ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan profesional Bapak/Ibu guru dalam meningkatkan mutu pendidikan  sekolah Bapak/ibu umumnya pendidikan di daerah kita Ranah Minang tentunya. Jangan lupa untuk berbagi pengalaman kepada rekan-rekan guru sekembalinya dari magang nanti.</div>
<div> </div>
<div> </div>
<div> </div>
<div>Wassalam,</div>
<div> </div>
<div>Drs. Zulkarnaini</div>
<div>Guru SMKN 1 <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bukittinggi</span></div>
<div>ICT Center/ICT Dinas Pendidikan</div>
<div>Kota <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bukittinggi</span></div>
<div>HP. 0813 6344 3035</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fekrynurbush.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fekrynurbush.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=18&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2008/05/12/magang-guru-smk-ke-australia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBENAHI PENDIDIKAN NAGARI BINAAN « Pendidikan Harapan dan Kenyataan</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/11/01/membenahi-pendidikan-nagari-binaan-%c2%ab-pendidikan-harapan-dan-kenyataan/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/11/01/membenahi-pendidikan-nagari-binaan-%c2%ab-pendidikan-harapan-dan-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 03:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/11/01/membenahi-pendidikan-nagari-binaan-%c2%ab-pendidikan-harapan-dan-kenyataan/</guid>
		<description><![CDATA[MEMBENAHI PENDIDIKAN NAGARI BINAAN « Pendidikan Harapan dan Kenyataan
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=10&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/10/membenahi-pendidikan-nagari-binaan/">MEMBENAHI PENDIDIKAN NAGARI BINAAN « Pendidikan Harapan dan Kenyataan</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fekrynurbush.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fekrynurbush.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=10&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/11/01/membenahi-pendidikan-nagari-binaan-%c2%ab-pendidikan-harapan-dan-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN ATAU OLAHRAGA-KAH YANG LEBIH PENTING</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/11/01/pendidikan-atau-olahraga-kah-yang-lebih-penting/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/11/01/pendidikan-atau-olahraga-kah-yang-lebih-penting/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 03:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/11/01/pendidikan-atau-olahraga-kah-yang-lebih-penting/</guid>
		<description><![CDATA[ &#8220;Indonesia Kirim 50 Atlit Muda Berlatih ke Kuba&#8221; Kontingen Kuba selalu meraih tempat terhormat, paling tidak selalu masuk dalam urutan lima besar pada beberapa olimpiade yang pernah diadakan, yaitu di Seoul, Barcelona, Atlanta, Sydney dan terakhir di Athena. Kuba juga akan mengirim atlitnya ke Indonesia untuk belajar badminton dan pencak silat. 
Di samping pertukaran atlit juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=9&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong></strong><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">&#8220;Indonesia Kirim 50 Atlit Muda Berlatih ke Kuba&#8221; </span><span style="font-family:Arial;">Kontingen Kuba selalu meraih tempat terhormat, paling tidak selalu masuk dalam urutan lima besar pada beberapa olimpiade yang pernah diadakan, yaitu di Seoul, Barcelona, Atlanta, Sydney dan terakhir di Athena. Kuba juga akan mengirim atlitnya ke Indonesia untuk belajar badminton dan pencak silat. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span id="more-9"></span>Di samping pertukaran atlit juga disepakati, kedua belah pihak (Indonesia &#8211; Kuba), sejumlah agenda pengembangan mutu pelatih dengan saling tukar buku, rekaman, publikasi majalah, dan alat olah raga.  </span><span style="font-family:Arial;">Dua puluh sembilan (29) atlit dan lima (5) pelatih angkatan pertama yang berangkat ke Kuba adalah: Rubenson Christian Djo, Beatus Armindo Nealaka, Alberto Alfons, Nirwan effendi Harahap dll..&#8221; [dikutip dari: hal 7 Buletin Kemenegpora, Edisi 4 Volume 2 - Juni 2007]</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>Manakah</span></strong><span> yang lebih penting (urgen) untuk Republik Indonesia ini; pembinaan mutu pendidikan, atau kemenangan dalam beberapa cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade? Siapakah yang paling layak untuk dikirim &#8216;menjemput&#8217; <em>olahraga serta pendidikan bermutu</em> itu ke mancanegara? </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Kondisi riil pendidikan dan olahraga di negeri kita <!--more-->telah kita percermin setiap hari; begitu pula kondisi perekonomian negeri ini. Kita juga sering melihat di layar TV Rano karno berujar: &#8220;&#8230; Bagaimanapun perekonomian kita, anak harus tetap sekolah&#8230;&#8221; </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Sepakatkah kita bahwa dalam kondisi keuangan negara yang tidak begitu menguntungkan, seperti sekarang, kita<span>  </span>harus mendahulukan yang lebih penting?</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span>Human development index</span></em><span> (HDI) mengindikasikan tingkat kemajuan manusia di dunia dengan <span> </span>tiga hal berikut: (1)<span>  </span><em>tingkat kesehatan, (2) pendidikan</em> (yang mencakup lama duduk di bangku sekolah, dan angka butahuruf yang rendah), serta<em> (3) daya beli rerata</em> penduduk suatu negara. Saat ini, dikatakan bahwa yang menduduki peringkat HDI terbaik adalah<span>  </span>Kanada, diikuti Norwegia, Amerika Serikat, Australia, dan Islandia. Sedangkan negeri kita berada di peringkat seratusan lebih. Inginkah kita memperbaikinya?; dengan cara apa?</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><span><span style="font-family:Times New Roman;">Kita harus tetap belajar, kalau tidak mau tertinggal terus. Tempat belajar itu sudah jelas. Nenek moyang kita mengatakan; “Alam terkembang jadi guru.” Tidak dikatakan bahwa, alam terkembang itu hanya di Minangkabau, atau di Indonesia saja. Dengan begitu, kita dituntut untuk mau belajar dari siapa saja, negara mana saja, tentang apa saja termasuk: olah raga dan pendidikan.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Berapakah dana diperlukan untuk ‘pembelajaran’? Hal ini tentu tergantung kepada :berapa lama, banyak orang, dan berapa jauh yang dikirim untuk belajar. Ketika mengirim ‘anak bangsa’ belajar ke luar negeri, kita harus pertimbangkan berapa lama mereka, yang dikirim itu, akan dapat mengabdi mengharumkan nama bangsa, sekembali dari sana. Seberapa besar impact pengiriman kepada bidang itu, (pendidikan dan olahraga) di negara ini, kelak.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><span><span style="font-family:Times New Roman;">SMA Piloting, sekolah berstandar internasional, (SBI) diamanatkan undang undang harus diadakan pemerintah di setiap kabupaten dan kota. <strong>Di sekolah itu guru harus mengajar Matematika dan Science berpengantar bahasa Inggris. </strong>Pada kenyataannya, kebanyakan guru belum mampu “mengajar dengan pengantar bahasa Inggris’. Mereka baru bisa sekedar bercakap-cakap bahasa Inggris. Untuk mengoperasikan ilmunya dalam pembelajaran siswa, mereka belum mampu; karena mereka memang belum dipersiapkan untuk itu. <strong>Kenapa kita tidak memberikan guru SBI ini pelatihan di luar negeri pula?;</strong> <span> </span>seperti yang dinikmati sebahagian kecil pelatih olah raga yang ikut kontingen 50 orang atlit Indonesia ke Kuba? Tidak usah jauh-jauh ke Kuba. </span></span></p>
<p><span><span style="font-family:Times New Roman;">Guru guru SBI cukup dikirim ke negera terdekat, Australia. Ongkosnya tentu akan jauh lebih murah. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Di Sumbar ada 19 kabupaten kota, dengan SBI. Kalau tiap kabupaten kota dapat mengirim lima (5) orang guru untuk magang tentu biayanya tidak terlalu besar. Mereka dapat berlatih dan bekerja sama dengan guru Australia yang mengajar matpel yang sama selama tiga minggu saja. Dengan begitu, dapat diperkirakan, hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan bila mereka dilatih di Indonesia, oleh instruktur yang bukan guru SMA. Instruktur lokal berkualifikasi Doktor dalam bidang ilmu dan Bahasa Inggris sekalipun, belum tentu akan memahami cara mengajar siswa SMA. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><span><span style="font-family:Times New Roman;">Pengiriman guru SBI untuk magang di Australia akan bisa dikembangkan menjadi pelatihan lokal dengan instruktur guru Australia melalui kerjasama dengan ‘memamfaatkan’ guru Mipa Australia yang kebetulan datang berwisata ke Indonesia (Bali). Mereka bisa tampil di berbagai MGMP guru Mipa SBI. Kita bisa ‘bekerjasama’ dengan Atase Kebudayaan dan Pendidikan negara Australia dan negara lain untuk itu. Kita juga akan dapat menggunakan<span>  </span>para guru yang pernah dikirim untuk magang ke Australia menjadi asisten pelatih bagi ‘instuktur internasional tadi’. Dengan begitu, kita bisa membuat pelatihan lokal lebih bermutu, namun tetap dengan biaya yang relatif murah.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span></span></span></p>
<p><span><span style="font-family:Times New Roman;"></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Saya pikir, program magang seperti diuraikan di atas perlu dilakukan sebelum lulusan LPTK lokal, yang mampu mengajar Mipa dan mata pelajaran lainnya dengan bahasa pengantar Inggris, tersedia. <strong>Dalam keterbasan anggaran APBN dan APBD tentu kita harus memilih mana yang akan kita dahulukan; pelatihan atlit atau pelatihan guru SBI.</strong> Saya percaya, program pengiriman guru magang akan efektif bila seleksi terhadap guru SBI, yang akan diberangkatkan magang, dilakukan dengan benar. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><span><span style="font-family:Times New Roman;">Kebanyakan orang tua siswa dan dan pengelola SBI Piloting yang ada sekarang selalu bertanya-tanya; seperti ini sajakah terus pembinaan yang dapat diberi pemerintah pusat dan propinsi? Tidakkah akan ada usaha yang lebih baik untuk pembinaan mutu guru SBI? </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Wallahu alam bissawab.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Fekrynur,</span></span><span style="font-size:8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pengawas Sekolah Prop. Sumbar.<span>  </span>[Pdg. 29 Sep 2007]. </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fekrynurbush.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fekrynurbush.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=9&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/11/01/pendidikan-atau-olahraga-kah-yang-lebih-penting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBENAHI PENDIDIKAN NAGARI BINAAN</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/10/membenahi-pendidikan-nagari-binaan/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/10/membenahi-pendidikan-nagari-binaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 02:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/10/membenahi-pendidikan-nagari-binaan/</guid>
		<description><![CDATA[


MEMBENAHI PENDIDIKAN NAGARI BINAAN

Oleh: Drs. Fekrynur, M.Ed. 
“&#8230;Ibu yang ‘miskin pendidikan’ cenderung tidak melanjutkan pendidikan anaknya. Kemiskinan pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemiskinan ekonomi.” [Elfindri, 2001, hal. 107.] 
PENDAHULUAN
Banyak orang percaya kalau pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting dan merupakan unsur utama kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) malah menetapkan: Pendidikan, Kesehatan dan kemampuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=6&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table border="0" align="left" width="354" cellPadding="0" cellSpacing="0" style="width:354px;height:8361px;">
<tr>
<td height="250" width="100%" vAlign="top">
<p align="center"><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">MEMBENAHI PENDIDIKAN NAGARI BINAAN</font></font></span></strong></p>
<p align="center"><strong><span><span><font size="3" face="Times New Roman"><a href="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/fekrynur.jpg" title="fekrynur.jpg"><img border="0" width="120" src="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/fekrynur.jpg?w=120&#038;h=120" alt="fekrynur.jpg" height="120" style="width:94px;height:140px;" /></a></font></span></span></strong></p>
<p align="center"><strong><span></span></strong><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Oleh:</font></font></span></strong><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Drs. Fekrynur, M.Ed.</font></font></span></strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="left"><span></span><font size="3"><font face="Times New Roman"><em><span>“&#8230;Ibu yang ‘miskin pendidikan’ cenderung tidak melanjutkan pendidikan anaknya. Kemiskinan pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemiskinan ekonomi.”</span></em><span> [Elfindri, 2001, hal. 107.]</span></font></font><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">PENDAHULUAN</font></font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Banyak orang percaya kalau pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting dan merupakan unsur utama kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) malah menetapkan: Pendidikan, Kesehatan dan kemampuan Ekonomi sebagai indikator resmi dari PEMBANGUNAN KEMANUSIAAN. Ini disebut sebagai HDI (Human Development Index). Artinya: kelompok masarakat yang HDI-nya cukup tinggi, rata-rata anggota masyarakat itu lebih lama duduk di bangku sekolah, angka buta huruf-nya rendah; di bidang kesehatan, mereka hidup sehat sampai usia cukup tua, dan relatif tidak ada terjangkit penyakit menular dan wabah; sedangkan dalam perekonomian, mereka mempunyai daya beli yang tinggi, tidak ada yang miskin apalagi sampai kelaparan.</font></font></span><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Di pihak lain, jumlah penduduk miskin Indonesia selalu bertambah, dari tahun ke tahun. Ini adalah merupakan suatu kenyataan pahit. Data Balitbang Depdiknas menyatakan: 63,35 % tenaga kerja Indonesia hanya berpendidikan SD. <strong>[Subijanto, 2007] </strong></font></font></span></p>
<p align="left"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Tingkat harapan hidup bangsa kita juga masih rendah, dengan kasus wabah penyakit<span>  </span>cukup sering terjadi. Tidak hanya itu; kita sangat sering mendengar warga masyarakat<span>  </span>keracunan makanan, yang disebabkan termakan makanan yang kurang bersih, dan mengonsumsi makanan kadaluarsa. “Termakan makanan mutu serampangan ini” adalah salahsatu indikasi masarakat kita kurang pengetahuan dan lemah tingkat ekonominya, dan ini berdampak kepada rendahnya mutu kesehatan badan.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span> </span></font></font></span></p>
<p align="left"><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Tulisan ini mencoba mengungkapkan sedikit tentang kondisi masarakat (miskin) kita di beberapa Nagari Binaan Provinsi, dengan tujuan memberikan masukan kepada <em>stake holders</em>, komite sekolah, dewan pendidikaan, dan dinas instansi terkait untuk dapat menemukan akar permasalahan (kemiskinan di Nagari Binaan), mencarikan jalan pemecahannya, dan sekaligus dapat dilakukan <em>‘action’</em>, untuk menanggulanginya.</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> <span id="more-6"></span></font></span></p>
<p align="left"><span></span><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">PENDIDIKAN</font></font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pengertian kata: <strong><em>Pendidikan</em></strong> menurut kamus Webster adalah: <strong><em>proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pemikiran dan karakter khususnya melalui persekolahan formal, pengajaran dan pelatihan.</em></strong> Dari pengertian pendidikan tadi saya berasumsi bahwa ‘proses pelatihan dan pengembangan terhadap: 1) pengetahuan, 2) keterampilan, 3) pemikiran, dan 4) karakter<span>  </span>seseorang<span>  </span>sebenarnya dapat dibantu (pada awalnya) oleh orang lain, namun kemudian dapat pula dilakukan secara sadar sendiri. Barangkali, proses dan capaian pengembangan masing-masing orang terhadap pendidikan bisa berbeda-beda, tergantung kepada kemampuan masing-masing <em>membelajarkan</em> dirinya.</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pencapaian hasil belajar seorang warga didik sangat banyak ditentukan oleh tingkat motivasi dia sendiri dalam belajar. Semakin kuat dorongan atau motivasi seseorang untuk berproses maka semakin besar kemungkinan dia meraih sukses dalam pendidikan. Namun diakui, sukses tidaknya pelaksanaan pendidikan di tataran lingkungan masarakat luas tergantung kepada banyak aspek.</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pendidikan dapat dilakukan di sekolah (SD s/d. Perguruan Tinggi), dan di luar sekolah melalui: latihan-latihan singkat, kursus-kursus, dan bimbingan massal di tengah masarakat; ada yang langsung, dan banyak pula yang tidak langsung yaitu hanya melalui berbagai media. Namun pada kenyataannya sekarang, terlalu banyak tontonan dan bacaan yang tidak mendidik di tengah masarakat kita.</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pendidikan yang mampu mengangkat HDI hanyalah pendidikan yang bermutu. Artinya proses yang mencerdaskan dan mampu mentransformasikan warga belajarnya menjadi: <em>berpengetahuan, terampil, pemikir </em>dan<em> berkarakter baik</em>. Saya tidak akan membicarakan panjang lebar problematika pembangunan <em>mutu pendidikan</em> di sini.Tetapi ada baiknya dikemukakan beberapa kutipan berikut, sebagai cerminan sampai di mana tinggi langit langit kemajuan pendidikan Indonesia, dan kondisi penanganan pendidikan kita sekarang.<!--more--><!--more--> </font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="left"><span></span><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pendidikan Kita di Mata Ilmuwan Pendidik</font></font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Depdiknas sendiri terkesan tidak mendidik, dan tidak bergeming ketika menerima kritikan, dan masukan yang cukup kostruktif. <strong>[Kompas, September 2007]</strong></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span> </span></font></font></span></p>
<p align="left"><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span></font></font></span><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Daya Baca</font></font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pendidikan kita belum berhasil membuat masarakat kita gemar membaca. Pada hal membaca itu memainkan peran yang amat penting dalam proses pendidikan.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span> </span></font></font></span><strong><span><font size="3" face="Times New Roman">Kemampuan membaca</font></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman"> merupakan wahana utama yang dapat menjunjung martabat suatu bangsa ke kedudukannya yang paling tinggi. Ini sudah tidak diragukan lagi. Dalam era informasi yang tengah kita jalani sekarang, para ahli ekonomi dunia membuat prakiraan bahwa: kehidupan perekonomian bertalian dengan sumber daya manusia, sendiri. Hal itu <span> </span>ialah kemampuan bernalar untuk berkreasi dan beradaptasi, yang merupakan persyaratan dasar memacu kehidupan dalam teknologi serba canggih. </font></font></span></p>
<p align="left"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Kemahiran baca-tulis baru sangat dirasakan keperluannya dalam abad pascaindustri yang ditandai oleh penggunaan alat-alat transportasi yang serba cepat, baik di darat maupun di udara, pengorbitan satelit dan pesawat-pesawat angkasa luar, serta berbagai jenis komputer yang luar biasa canggihnya. Era pascaindustri ini lebih tepat disebut <span> </span>sebagai <strong>era media massa</strong>, <strong>era sis-tem komunikasi dan informasi</strong>, atau <strong>era sibernetik</strong>.</font></font></span></p>
<p align="left"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pendidikan membaca berlanjut dalam enam tahap, yaitu:</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"> 1) membaca masalah-masalah keagamaan, 2) hal-hal yang bersifat nasionalistik-moralistik, 3) menghasilkan lulusan yang memiliki inteligensi yang tinggi. 4) <span> </span>mengarah pada membaca masalah nilai budaya,<span>  </span>5) <span> </span>membaca untuk penelitian ilmiah yang disusul oleh periode penelitian yang dilakukan secara mendalam serta aplikatif ; akhirnya membaca sampai kepada tahapan ke &#8211; 6) yang merupakan pengembangan pengetahuan dan revolusi teknologi. </font></font></span></p>
<p align="left"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Membaca merupakan batu loncatan bagi keberhasilan anak di sekolah dan dalam kehidupan selanjutnya, dalam masyarakat. Tanpa kemampuan mem- baca yang layak, ekselensi di sekolah lanjutan dan di perguruan tinggi tidak mungkin menjadi kenyataan bagi anak.</font></font></span><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Sejarah umum pendidikan membaca mengungkapkan bahwa: hakikat membaca merupakan proses berpikir, membaca merupakan proses setutup usia, membaca mempunyai kedudukan utama dalam semua mata ajar sekolah, membaca harus mempunyai tujuan tertentu, dan pertumbuhan serta perkembangan membaca itu dipengaruhi oleh banyak faktor. <strong>[<span>Ahmad Slamet Harjasujana]</span></strong><span> </span></font></font></span><span style="font-family:Arial;"><font size="3"> </font></span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Arial;"></span><font size="3"><font face="Times New Roman">Selama ini pengajaran membaca dianggap sebagai tugas guru SD kelas 1, 2, dan 3 saja. Akan tetapi sebahagian pendidik menghimbau agar perhatian yang lebih harus juga diberikan kepada ‘kebutuhan keterampilan membaca’ siswa yang lebih senior. [<strong>Lori Aratani] </strong></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">Ini amat disayangkan, karena guru yang mengajar<span>  </span>(bahasa Indonesia) di tingkat kelas yang lebih tinggi tidak menganggap perlu lagi mengajarkan membaca yang betul.</font></font></p>
<p align="left"><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Umur Siswa dan Institusi Pendidikan</font></font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span>Hari Santosa </span></strong><span>mengutip para pakar pendidikan Islam, tentang <strong>Pelaksanaan Pendidikan Kita</strong> sekarang: </span></font></font></p>
<p align="left"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span></font></font><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Ulama dahulu mempunyai <strong>target kultural</strong> dan <strong>kurikular </strong>yang jelas dalam pendidikan. Secara kultural, mereka telah mendorong anak-anak yang sudah baligh untuk tidak lagi tinggal di rumah, tetapi di surau atau mereka didorong untuk merantau. Di Jawa kita kenal konsep pesantren dsbnya.Namun sayangnya (sekarang) hampir semua sekolah berbasis Islam tidak mempunyai target kultural maupun kurikular seperti itu lagi.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Menurut Malik Badri seorang pakar dan psikolog muslim<span>  </span>Turki ( yang pernah datang ke Indonesia di tahun 80an): “Penjenjangan pendidikan seperti PG, TK, SD, SMP, SMA adalah gaya Barat, yang bercermin pada pembagian kelompok: TODDLERS, KIDS, TEENAGERS, ADULT dstnya. Setiap level ada masa awal, pertengahan dan akhir. Di setiap akhir, menurut mereka, ada PUBERTAS, &#8220;kenakalan&#8221; atau Pancaroba menuju level berikutnya. <strong>Pembagian ini tidak dapat dibenarkan secara ilmiah, namun ham-pir semua sekolah memakainya termasuk sekolah Islam, juga.</strong><br />
</font></font></span></p>
<p align="left"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Lihatlah Mutiara Islam sepanjang zaman, bagaimana mereka telah menjadi &#8220;leader&#8221; di usia belia. <strong>Usamah bin Zaid ra</strong>, sahabat &#8220;muda&#8221; Rasululloh, telah dinikahkan Nabi pada usia 12 tahun, diangkat menjadi jendral ketika Perang Tabuk melawan Romawi memimpin ribuan pasukan pada usia 14 tahun. <strong>Imam Syafi&#8217;i</strong> rahima kumullah, di usia 7 tahun hafal Qur&#8217;an, usia 11 tahun jadi Mahasiswa, usia 13 tahun kehabisan dosen, usia 14 tahun telah menjadi MUFTI (pembuat fatwa). Perlu diingat bahwa beliau juga pengusaha di usia belia. <strong>Alkhawarizmi</strong>, tokoh matematika, pencipta ALGORITMA, usia 10 thn telah hafal Al’Qur&#8217;an, usia 13 tahun menjadi Dosen; dan Pengusaha. <strong>Muhammad al Fatih</strong>, sultan turki Utsmani, berhasil menaklukan konstantinopel TURKI dari tangan Romawi pada thn 1425, ketika ia berusia 18 tahun. Beliau adalah seorang jendral belia dengan strategi perang <span> </span>jenius. Banyak lagi, tokoh lain.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">ITU SEMUA adalah BUAH pendidikan dan tarbiyah yang &#8220;BENAR&#8221;.<br />
Imam Ghazali pernah berkata:<strong>’wajib belajar’</strong> jatuh ke pundak seseorang ketika dia sudah ‘wajib’ untuk itu. Seorang wajib belajar ilmu &#8220;nikah&#8221; ketika sudah wajib menikah, seorang wajib belajar &#8220;zakat&#8221; ketika dia sudah mampu berzakat dst. Dalam konteks yang lebih luas, seseorang wajib belajar sesuatu, apabila KAUMNYA membutuhkannya.</font></font></span></p>
<p align="left"><span></span><span></span><strong><span><font size="3" face="Times New Roman">Kurikulum Muatan Lokal</font></span></strong><span><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman">Saya melihat, yang harus masuk ke dalam kurikulum di daerah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan pembangunan UMMAT di daerah. Di Jepara, misalnya,<span>  </span>yang wajib dipelajari selain yang pokok adalah budidaya pohon jati, design ukir jati sampai kepada ekspor -impor hasil kerajinan kayu jati dstnya. Dengan begitu, anak-anak di Jepara punya kemampuan membangun daerahnya. Ketika mereka aqil baligh, mereka telah menjadi businessman ukiran jati.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"> Di kampung- kampung nelayan, misalnya, sering kita melihat dilemma bahwa kalau anak-anak nelayan ke sekolah mereka tidak bisa membantu orangtuanya ke laut; jika ke laut maka mereka tidak sekolah. Pertanyaannya adalah mengapa &#8220;ME LAUT&#8221; tidak dijadikan kurikulum saja sekolah? Bukankan banyak yang bisa dipelajari di laut; seperti: Ilmu perbintangan, budidaya ikan, konservasi pantai, design kapal sampai motor tempel, budidaya pohon jarak (sebagai pengganti bahan bakar solar). Hal seperti itu harusnya terjadi pula di daerah peternakan, perkebu-nan, dan sebagainya.</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman">Sekolah seharusnya menjadi sentra untuk menciptakan dan menemukan potensi bisnis di daerah; lalu kemudian menciptakan bisnisman- bisnisman handal usia belasan tahun di bidang mereka. Saya percaya jika ini diterapkan maka perekonomian daerah akan me-ningkat pesat, sektor real akan berdenyut cepat. Lulusan sekolah dijamin tidak akan menjadi penganggur.</font></span><span><font size="3" face="Times New Roman">Gedung bangunan sekolah tidak perlu &#8220;mewah&#8221; yang penting Lahan untuk inkubator bisnis. Tidak seperti SD Inpres, empat lantai, yang dibangun pemerintah yang setiap tahun diberitakan roboh karena tidak ada <em>budget</em> untuk </font><font size="3"><font face="Times New Roman"><em>maintenance<br />
</em><br />
Gurunya adalah putera daerah yang kompeten, petani/peternak/pengrajin/pengusaha sukses di daerahnya. Pemerintah/ Komunitas daerah hanya perlu merekrut 2 orang PAEDAGOGE dan PSIKOLOG per Kabupaten untuk menyusun kurikulum berbasis POTENSI BISNIS di daerah. Perpustakaan difokuskan kepada pengembangan potensi daerah ini.</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">Dengan begitu, pendidikan atau sekolah benar2 menjadi tempat dimana BUSINESS dilahirkan, dihidupkan dan diimplementasikan dalam dunia nyata untuk menghidupkan Kesholehan Sosial dan Kesholehan Ekonomi di Daerah. [<strong>Harry Santosa]</strong></font></font></span></p>
<p align="left"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span><font size="3" face="Times New Roman">Ujian Nasional (UN)</font></span></strong><span><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman">UN seharusnya dihapuskan, sebab ujian tersebut tidak adil bagi siswa. Jika berniat mengukur standar nasional untuk mata pelajaran tertentu, pemerintah cukup melakukan tes tanpa dikaitkan dengan kelulusan siswa, ungkap <strong>Prof, Dr. Wahyudin, M.Pd</strong>., Guru Besar Pendidikan Matematikan UPI. Ditambahkannya: jika ujian tiga mata pelajaran dijadikan standar kelulusan, proses pembelajaran siswa selama tiga tahun di sekolah menjadi sia-sia.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Menurut Wahyudin, lagi: penilaian dalam pendidikan adalah sebuah proses yang berkesinambungan. Sangat tidak adil bagi siswa, jika ternyata proses pembelajarannya harus terhenti, hanya karena tidak lulus pada mata pelajaran yang diujikan di UN.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">“Anda bayangkan, anak SMP atau anak SMA belajar dari kelas 1 sampai kelas 3, lalu karena dia di­beri ujian matematika dan menda­pat nilai 4, dia tidak lulus. Itu <em>kan</em> tidak <em>fair</em>. Jadi, sebaiknya ujian nasional itu tidak usah ada,” katanya.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Wahyudin mengatakan, jika pemerintah ingin melihat kompetensi siswa dalam matematika, cukup dilakukan tes nasional. Tapi, jangan dikaitkan dengan kelulusan. “Coba bayangkan, dalam 120 menit seorang anak harus mengerjakan soal, lalu divonis tidak lulus. Itu tidak <em>fair</em> sama sekali,” ujarnya</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Menurut Wahyudin, seharusnya pemerintah segera mempertimbangkan persoalan ini dan berpikir lebih matang. Apalagi, sebenarnya anak-anak itu memiliki “langit-langit matematika” yang berbeda. Artinya, mereka memiliki kapasitas yang berbeda dalam mempelajari matematika.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Apalagi, lanjut Wahyudin, tidak mungkin semua anak memiliki level matematika yang sama ketika lulus. Hal itu disebabkan oleh beberapa indikator, termasuk masalah psikologis. “Jangankan di Indonesia, orang Inggris pun banyak yang tidak suka dengan matematika,” ujarnya.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pelaksanaan UN juga sangat rancu. Sebab, evaluasi dan perbaikan tidak bisa dilakukan segera, sebelum seorang siswa lulus. Menurut Wahyudin, sebaiknya tes kompetensi semacam itu dilakukan di kelas 2 atau pertengahan kelas 1.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Dengan demikian, akan lebih memungkinkan bagi guru dan sekolah untuk mengevaluasi proses belajar di sekolah tersebut. Hasil tes itu bisa menjadi masukan bagi guru, agar bisa melakukan pendekatan pembelajaran yang lebih baik lagi.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Wahyudin juga menyoroti sistem penilaian di kurikulum 2004 (KBK). Menurutnya, dalam evaluasi belajar anak, tidak perlu ada pemisahan penilaian domain kognitif, afektif dan psikomotor. Pada mata pelajaran seperti matematika, ujarnya, kemampuan kognitif sudah meliputi kemampuan afektif dan psikomotor.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">“Misalnya, ketika seseorang antusias dalam menyelesaikan persamaan kuadrat, kognitifnya akan kelihatan, antusiasme dinilai sebagai afektif, kemampuan mengganti huruf dengan angka dinilai psikomotor. Tidak perlu kita pilah-pilah, afektif dan psikomotor bisa terangkum di dalam kognitif,” ujarnya.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Juga dikatakan, pemilahan penilaian seperti itu, di sisi lain, juga membuat guru lebih terbebani dalam menjalankan tugasnya. Terlebih, sebenarnya tidak semua guru berkompeten menilai tiga domain tersebut. “Hasil uji coba di beberapa sekolah juga meragukan. Banyak yang mengatakan KBK membingungkan,” ujarnya.</font></font></span></font></font></span></p>
<p align="left"><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Content</font></font></span></strong></font></font></span></p>
<p align="left"><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span></span></strong><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span>Husaini Usman</span></strong><span> mengutip, bahwa: dalam hal pelaksanaan kurikulum pendidikan kita ternyata masih menganut<strong> filsafat banyak tahu tetapi sedikit menguasai</strong> (Nogi &amp;Tangkilisan, 2003). Juga menurut Nogi &amp; Tangkilisan:<span>  </span>pendidikan selama otoda ini gagal dalam: (1) melahirkan SDM yang kuat, (2) mendidik anak-anak bangsa untuk hidup secara damai dan sejuk, (3) memberikan pemerataan layanan mutu pendidikan, dan (4) melahirkan anak bangsa Indonesia yang jujur.</span></font></font><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Dia melanjutkan dengan mengutip:Banyak orangtua mengeluh bahwa anak-anak mereka kurang santun dalam bersikapterhadap orang lain termasuk tidak santun berlalu lintas. Ada beberapa orang siswa yang berani menyekap gurunya dalam almari sekolah, ada siswa dan mahasiswa ikut-ikutan orang tuanya bermusuhan dan bahkan ikut saling membunuh (Kartono, 2002). Banyak air mata yang jatuh karena warga negara telah mengorbankan segalanya untuk menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan dapat meningkatkan harkat dan martabat hidupnya, namun akhirnya justeru menjadi anak durhaka. Anak durhaka adalah salah satu produk dunia pendidikan kita ( Harefa, 2001) </font></font></span></font></font></span></p>
<p><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Hal ini terjadi karena pendidikan kita selama ini kurang mementingkan kecerdasan emosional dan spritual.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Perilaku agresif negatif (yang berkembang di kalangan siswa) ini berpeluang besar bagi mereka melakukan KKN kalau sudah dewasa menurut Pidarta (2001).</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"> </font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">NAGARI BINAAN</font></font></span></strong></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Dengan <em>leading</em> sektornya Biro Pemerintahan Nagari tim fasilitator / penyuluh yang terdiri dari: personil Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Koperasi, dan Badan terkait lain di Tingkat Propinsi Sumatera Barat. Persiapan pembinaan terhadap ‘Nagari Binaan Propinsi’ bermula dengan surat<span>  </span>Sekretaris Daerah nomor: 140/037/Pem.Nag/Kel – 2007, tertanggal 28 Maret 2007. Tim melakukan ‘kunjungan pembinaan’ ke sebelas (11) Nagari Binaan berikut:</font></font></span><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">(1) Sungai Tarab,<span>  </span>(2) Pauah Kamba, (3) Aia Gadang, (4) Tanjuang Batuang,<span>  </span>(5) Tabek Panjang (6) Piobang, (7) Palangki, (8) Sitiuang, (9) Gauang, (10) Lubuak Malako, dan (11) Gurun Panjang;<span>   </span>sedangkan dua kelurahan binaan lainnya adalah: Durian II, dan Nan Balimo. Akan menyusul ikut dalam program salahsatu nagari di Kab.Mentawai.</font></font></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Penetapan nagari binaan<span>  </span>di atas di atur oleh surat <strong>Keputusan Gubernur nomor: 140/237/Pem. Nag-2005, tanggal 23 Juli 2005</strong>.</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pengertian Membina dan Tujuannya</font></font></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Berulang kali dalam kunjungan ke nagari nagari, <strong>Kepala Biro Pemerintahan Nagari/Kelurahan menegaskan; </strong>“Kami (Tim Pembinaan Nagari) datang tidak membawa ikan, tetapi membawa pancing. Kami tidak datang untuk<span>  </span>menghantar ‘uang belanja’, tetapi untuk mencermati akar penyebab kemiskinan warga masyarakat nagari untuk kemudian, bersama masyarakat nagari/kelurahan,<span>  </span>menemukan alternatif pemecahan masalahnya dengan menggunakan segala potensi nagari/kelurahan sendiri dan mensinergikannya dengan segala ‘bantuan’ pemerintah kabupaten/kota dan propinsi yang ada.<span>  </span>Tujuan akhir kedatangan kami adalah menekan angka kemiskinan melalui pembinaan kesejahteraan warga, yang antara lain, dilakukan melalui <strong>pembinaan pendidikan </strong></font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Membenahi Pendidikan Nagari Binaan</font></font></span></strong></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Dalam pantauan tim ke masing-masing nagari binaan yang masing-masing hanya dikunjungi sekali, dengan lama kunjungan hanya antara tiga sampai lima jam saja. Tim pembina hanya bertemu dengan sekitar 15 s/d 30 tokoh masyarakat. Dan tidak kelihatan<span>   </span>di antara mereka KK miskin ikut hadir. <strong>Dengan begitu kita tidak bisa tahu persis apa yang sebenarnya macam pendidikan</strong> atau <strong>pelatihan yang benar-benar akan menyentuh</strong> dan mampu menawarkan perubahan atas kemiskinan yang mendera mereka.</font></font></span><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span></span></strong><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Kondisi Dua Sistem Pendidikan Untuk Anak Nagari</font></font></span></strong></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">1). Pendidikan formal persekolahan (SD,SMP, MTs) tidak banyak dikeluhkan hadirin; kecuali tentang cukup tingginya angka drop out <span>  </span>siswa, tidak adanya buku perpustakaan, dan motivasi belajar siswa yang kurang (di beberapa Nagari Binaan).</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span>                        </span></font></font></span></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">2). Prog PLS baik yang langsung dari Propinsi, maupun yang melalui SKB, dirasakan terlalu sedikit frequensinya, dan <strong>pilihan keterampilan yang ditawarkan juga tidak selalu cocok dengan kebutuhan nagari; </strong>sehingga kurang menyentuh kepada kebutuhan pelatihan yang diperlukan sesuai dengan potensi nagari binaan yang ada. </font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Menurut pengamatan saya; penduduk kaya dan miskin cendrung berbeda kebutuhan materi pembelajaran dan latihan muatan lokal yang dirasakannya.Yang kaya lebih memilih bidang diklat yang sarat teknologi canggih, ‘mahal’ dan musykil di nagari. Sebaliknya <strong>penduduk miskin lebih memerlukan diklat yang bersifat teknologi terapan sederhana, yang dapat dilaksanakan di nagari, dan dapat langsung berkontribusi kepada peningkatan ekonomi anak nagari.</strong> Dengan kata lain, rakyat miskin perlu belajar untuk <em>survive</em>, tetap dapat hidup hari ini.</font></font></span><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span>            </span></font></font></span></strong></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span></font></font></span></strong><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Problematika Pembinaan Pendidikan Rakyat Miskin</font></font></span></strong></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Diantara problematika pembinaan pendidikan rakyat miskin adalah:</font></font></span></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">1). Penduduk miskin atau orang yang menghayati permasalahan penduduk (pendidikan) miskin tidak terwakili dalam komite sekolah, atau di lembaga yang akan menyusun program bagi kaum duafa itu.</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"> </font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"></p>
<p align="left"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">2). Komite Pendidikan di kab-ko, serta provinsi belum tentu berpikir tentang bagaimana mengakomodir pendidikan untuk kaum dhuafa. Mereka, mungkin, akan lebih banyak berpikir tentang pendidikan untuk masarakat umum, untuk <span> </span>sekolah berstandar internasional (SBI).</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="left"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">3). Kalaupun ada usaha untuk memajukan pendidikan bagi rakyat marginal itu lewat Tim Fasilitator Nagari Binaan Propinsi <strong>belum tentu akan ada sambutan staf dan pejabat dari dinas dan instansi terkait untuk menuangkan kegiatan ini secara khusus ke dalam usulan anggaran program secara signifikan.</strong> </font></font></span><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong></p>
<p></font></font></span></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Urgensi Kebutuhan Pendidikan Penduduk Miskin </font></font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Bila yang menjadi sasaran pembinaan di Nagari Binaan adalah keluarga miskin maka yang sangat perlu diobservasi kondisi pendidikannya adalah pendidikan dan latihan yang dapat ‘dinikmati’ kaum duafa itu selama ini. Bila pendidikan dan latihan itu belum menyentuh mereka, maka perlu dipertanyakan; apa faktor penyebabnya mereka tidak atau belum mendapatkannya. Harus dicari tahu, berapa dari mereka (kaum miskin itu) yang telah mendapat diklat?, diklat apa? seberapa dampak dan atau relevansi diklat itu terhadap usaha ‘mengatasi kemiskinan’ yang mereka derita? </font></font></span><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">USUL SARAN PEMECAHAN MASALAH</font></font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Kunjungan tim yang bersifat sporadis, tidak akan bisa menemukan permasalahan (pendidikan) penduduk miskin yang sesungguhnya. Diperlukan suatu tim yang bersifat permanen yang dikenal dan padu dengan dinas instansi terkait baik di propinsi, kabupaten kota sampai ke kecamatan. Tim itu harus berkemampuan untuk melakukan: </font></font></span></p>
<p align="left"><span></span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span>1). Pengamatan langsung dan kajian bersama yang melibatkan</span></strong><span>: <strong>ahli pendidikan</strong>, <strong>tokoh</strong> <strong>masarakat (pendidik)</strong> <strong>nagari, serta dialog dengan kaum duafa,</strong> <strong>langsung.</strong></span></font></font></p>
<p align="left"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span>2). Perumusan</span></strong><span> <strong>program Kurikulum Muatan Lokal di sekolah, dan program pendidikan luar sekolah yang benar-benar berguna bagi penduduk (miskin) yang bersekolah atau berdiam di Nagari Binaan. </strong>Walaupun memang tidak semua rakyat nagari itu miskin, dan biasanya rakyat kaya memerlukan muatan lokal dan program keterampilan yang berbeda dari kebutuhan mendesak rakyat miskin.</span></font></font></p>
<p align="left"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span>3). Inisiasi pelaksanaan pendidikan (kurikulum muatan lokal) serta diklat PLS ,</span></strong><span> <strong>yang bersifat teknologi terapan sederhana, yang terprogram dan terlaksana dengan rapi.</strong></span></font></font><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Juga disarankan:</font></font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">1). <strong>Agar keanggotaan tim pembinaan tidak terlalu alir</strong>, sering gonta-ganti, dan setiap anggota tim yang turun ke nagari dapat memberikan masukan yang jelas kepada leading sektor pembinaan. Akan lebih bagus bila anggota tim pembinaan nagari itu dipikirkan untuk dijadikan ‘tim permanen lintas sektoral’ yang menguasai permasalahan (kesehatan, pendidikan dan ekonomi kerakyatan), dengan Surat Tugas dari Gubernur. </font></font></span></p>
<p align="left"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">2). <strong>Harus ada komunikasi yang intense</strong> antara pemuka masyarakat dan pemerintahan nagari dengan tim. Diperlukan pula forum pendiskusian berbagai alternatif kegiatan, yang ditawarkan, untuk mengatasi berbagai masalah.</font></font></span></p>
<p align="left"><span></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">3). <strong>Usaha serius untuk menggalakkan siswa menjadi pembaca</strong> harus segera dimulai, baik di sekolah-sekolah maupun melalui PLS. Sehingga pembinaan terhadap semua lapisan masarakat dapat dilakukan dengan mudah. </font></font></span><em><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></em><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><strong><u><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Bacaan Rujukan</font></font></span></u></strong></p>
<p align="left"><strong><u><span></span></u></strong><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span>Anonim, 2007.</span></strong><span> UN Kembali digugat,<span>  </span>Harian Kompas Jumat 21 September 2007</span></font></font><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="left"><span></span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span>Aratani, Lori 2006.</span></strong><span><span>  </span><em>Siswa Sekolah Menengah, dengan Kemampuan Membaca Rendah</em><strong> , </strong>The Washington Post Online<strong>, </strong></span>Thursday, July 13, 2006; Page B01 </font></font><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong><font size="3"><em><span style="font-family:Arial;"><span> </span></span></em></font></p>
<p align="left"><font size="3"><em><span style="font-family:Arial;"><span></span></span></em><font face="Times New Roman"><strong><span>Elfindri</span></strong><span>, 2001. <em>Ekonomi SDM</em> , Padang: Penerbit Universitas Andalas.</span></font></font><strong><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></strong></p>
<p align="left"><strong><span></span></strong><font size="3"><strong><span><font face="Times New Roman">Harjasujana,</font></span></strong><em><span style="font-family:Arial;"> </span></em><strong><span><font face="Times New Roman">Ahmad Slamet, 2007: Pentingnya Kedudukan Membaca, </font></span></strong><span style="font-family:Arial;"><a href="http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/25235"><em><span style="color:windowtext;font-family:Arial;text-decoration:none;">http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/25235</span></em></a></span></font><span style="font-family:Arial;"><font size="3"> </font></span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Arial;"></span><font size="3"><strong><span style="font-family:Arial;">Santosa,Hari, 2007: </span></strong><span style="font-family:Arial;">Pelaksanaan Pendidikan Kita Sekarang, dalam mailing list: <a href="mailto:pakguruonline@yahoogroups.com">pakguruonline@yahoogroups.com</a></span></font><span style="font-family:Arial;"><font size="3"> </font></span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Arial;"></span><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span>Subijanto,</span></strong><span> [2007] Program Pendidikan Life Skill Bagi Siswa Sekolah Menengah Atas di Wilayah Pesisir, <em>Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi: Mei<span>  </span>2007</em></span></font></font><em><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></em></p>
<p align="left"><em><span></span></em><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong><span>Usman,Husaini, 2004</span></strong><span>: Dampak Otonomi Daerah Terhadap Input Pendidikan<em>, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi: Juli 2004</em></span></font></font><em><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></em></p>
<p align="left"><em><span></span></em><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong>Wahyudin, 2002:</strong> Ujian Nasional Harus Dihapus, Tidak Adil dan Merugikan Para Siswa, Harian Pikiran Rakyat,<span>  </span>Selasa (23/11/2002)<span style="font-family:Verdana;"></span></font></font><strong><em><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></em></strong></p>
<p align="left"><strong><em><span></span></em></strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">-FN-</font></font></span></p>
</td>
</tr>
</table>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fekrynurbush.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fekrynurbush.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=6&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/10/membenahi-pendidikan-nagari-binaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/fekrynur.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynur.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nagari Binaan</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/09/3/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/09/3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2007 04:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/09/3/</guid>
		<description><![CDATA[NAGARI BINAAN
Laporan Fasilitator Bidang Pendidikan






 

Oleh:Drs. Fekrynur, M.Ed. 
“&#8230;Ibu yang ‘miskin pendidikan’ cenderung tidak melanjutkan pendidikan anaknya. Kemiskinan pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemiskinan ekonomi.” [Elfindri, 2001, hal. 107.] 
PENDAHULUAN
Jumlah penduduk miskin Indonesia selalu bertambah, dari tahun ke tahun. Diharapkan program pembinaan terhadap beberapa nagari (langsung) oleh Pemerintah Propinsi ini dapat menemukan akar permasalahan (kemiskinan di nagari binaan), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=3&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"><a title="fekry%20hansip2.JPG" href="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/fekry%20hansip2.JPG"></a><a title="drs-fekrynur-med.jpg" href="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/drs-fekrynur-med.jpg"></a>NAGARI BINAAN</span></span></strong></p>
<p align="center"><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Laporan Fasilitator Bidang Pendidikan</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"><a title="drs-fekrynur-med.jpg" href="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/drs-fekrynur-med.jpg"></a></span></span></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"><a title="drs-fekrynur-med.jpg" href="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/drs-fekrynur-med.jpg"></a></span></span></strong></p>
<div><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"></p>
<div><a title="drs-fekrynur-med.jpg" href="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/drs-fekrynur-med.jpg"></a></div>
<p></span></span></strong></div>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"><a title="drs-fekrynur-med.jpg" href="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/drs-fekrynur-med.jpg"></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><img src="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/drs-fekrynur-med.jpg" alt="drs-fekrynur-med.jpg" /></p>
<p> </p>
<p></a></span></span></strong></p>
<p align="center"><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh:</span></span></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Drs. Fekrynur, M.Ed.</span></span></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span>“&#8230;Ibu yang ‘miskin pendidikan’ cenderung tidak melanjutkan pendidikan anaknya. Kemiskinan pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemiskinan ekonomi.”</span></em><span> [Elfindri, 2001, hal. 107.]</span></span><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">PENDAHULUAN</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Jumlah penduduk miskin Indonesia selalu bertambah, dari tahun ke tahun. Diharapkan program pembinaan terhadap beberapa nagari (langsung) oleh Pemerintah Propinsi ini dapat menemukan akar permasalahan (kemiskinan di nagari binaan), mencarikan jalan pemecahannya, dan sekaligus melakukan ‘<em>action</em>’. Program ini diproyeksikan untuk menjadi contoh penanganan usaha menekan laju pertumbuhan penduduk miskin di nagari. Pembinaan ini dilakukan dalam suatu pola kerja yang mensinergikan berbagai sektor pemerintah dan swasta terkait<span>  </span>dalam aspek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan, di tingkat kabupaten/kota untuk mengembangkan semua potensi yang ada di masing-masing nagari/kelurahan binaan. </span></span><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"><span id="more-3"></span>Latar Belakang</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Pelibatan personil Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat sebagai fasilitator/penyuluh dalam Program Pemda Propinsi, cq. Biro Pemerintahan Nagari dalam kegiatan <em>persiapan</em> ‘Nagari Binaan Propinsi’ bermula dengan surat<span>  </span>Sekretaris Daerah nomor: 140/037/Pem.Nag/Kel – 2007, tertanggal 28 Maret 2007. Bersama-sama dengan anggota tim lainnya dari Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, dan Dinas Koperasi, dengan leading sektornya Biro Pemerintahan Nagari turun berkunjung ke sebelas (11) Nagari Binaan berikut:</span></span><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">(1) Sungai Tarab,<span>  </span>(2) Pauah Kamba, (3) Aia Gadang, (4) Tanjuang Batuang,<span>  </span>(5) Tabek Panjang (6) Piobang, (7) Palangki, (8) Sitiuang, (9) Gauang, (10) Lubuak Malako, dan (11) Gurun Panjang;<span>   </span>sedangkan dua kelurahan binaan lainnya adalah: Durian II, dan Nan Balimo. Akan menyusul ikut dalam program salahsatu nagari di Kab.Mentawai.</span></span></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Pengertian Membina dan Tujuannya</span></span></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Berulang kali dalam kunjungan ke nagari nagari, Kepala Biro Pemerintahan Nagari/Kelurahan menegaskan; “Kami datang tidak membawa ikan, tetapi membawa pancing. Kami tidak datang untuk<span>  </span>menghantar ‘uang belanja’, tetapi untuk <em>mencermati akar penyebab kemiskinan warga masyarakat nagari untuk kemudian, bersama masyarakat nagari/kelurahan, <span> </span>menemukan alternatif pemecahan masalahnya dengan menggunakan segala potensi nagari/kelurahan sendiri dan mensinergikannya dengan segala ‘bantuan’ pemerintah kabupaten/kota dan propinsi yang ada.</em><span>  </span>Tujuan akhir kedatangan kami adalah <em>menekan angka kemiskinan melalui pembinaan kesejahteraan warga. </em></span></span><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Metode Pembinaan</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Tim menyadari bahwa usaha pembinaan nagari haruslah dilakukan dalam suatu rangkaian kegiatan terpola. Harus ada program dan langkah-langkahnya yang dibuat sesuai dengan kebutuhan lapangan.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Salah satu cara pembinaan yang dilakukan adalah melalui rapat berdurasi 3 s/d maksimal 5 jam di masing-masing nagari dan kelurahan. Rapat ini dihadiri perangkat pemerintahan nagari dan pemuka masyarakat, berbagai aparat pemerintahan terkait di kabupaten/kota</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Melalui rapat ini, dijelaskan tujuan dan format pembinaan oleh tim propinsi, kemudian ditampung berbagai keluhan dan potensi yang ingin dikembangkan dari kondisi objektif nagari/kelurahan yang ada. Kemudian ditunjukkan jalan usaha pemecahan dan perbaikan yang mungkin dapat dilakukan melalui berbagai ‘program kegiatan’ yang ada (pendanaannya) di tingkat propinsi. Amat sering dalam pembinaan disarankan agar nagari mengajukan ‘proposal’, sebab tanpa proposal dari nagari tidak akan ada kegiatan.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"><span>    </span>Cara lain yang akan dilakukan adalah kegiatan <em>semiloka </em>yang mempertemukan semua perangkat pemerintahan nagari/kelurahan binaan, unsur pemkab/ko, dan tim pembina propinsi agar semua pihak dapat <em>saling belajar</em> untuk menyikapi percepatan usaha pengentasan kemiskinan di nagari/kelurahan binaan. Dalam semiloka itu, diharapkan, akan dapat dirumuskan semua pernak-pernik langkah pengentasan kemiskinan. Juga akan dilakukan anjangsana ke Jawa Tengah untuk peninjauan nagari (kelurahan) yang lebih maju di sana.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"><span>    </span>Untuk memperkuat semua upaya pembinaan di atas, dapat juga ditubuhkan suatu jalur komunikasi langsung (hotline) antara pemerintahan nagari dengan semua anggota tim<span>  </span>pembinaan nagari/kelurahan, melalui Biro Pemerintahan Nagari. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">PERMASALAHAN DAN SARAN SARAN</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Tim Pembina</span></span></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Personil tim pembinaan yang turun ke nagari tidak tetap orangnya, walaupun unsur-unsur dari dinas terkait hampir selalu terwakili dalam kunjungan ke tiap nagari. Akibatnya, apa-apa yang menjadi catatan di nagari tertentu oleh petugas sebelumnya belum tentu di berikan kepada petugas yang melakukan pembinaan selanjutnya. Juga belum pasti setiap anggota tim membuat laporan kepada Biro Pemerintahan Nagari/Kelurahan, leading sektor pembinaan nagari/kelurahan. Oleh karena itu, perumusan permasalahan nagari bisa tidak tajam, dan pembinaan bisa kurang fokus. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Disarankan agar keanggotaan tim pembinaan tidak terlalu alir, sering gonta-ganti. Hendaknya, setiap anggota tim yang turun ke nagari dapat memberikan masukan yang jelas kepada leading sektor pembinaan. Akan lebih bagus bila anggota tim pembinaan nagari itu dipikirkan untuk dijadikan ‘tim permanen lintas sektoral’ yang menguasai permasalahan (kesehatan, pendidikan dan ekonomi kerakyatan), dengan Surat Tugas dari Gubernur. Dengan begitu, anggota tim yang ditunjuk tetap bertanggungjawab walaupun kadang-kadang dia harus mangkir dengan mencarikan petugas pengganti sementara yang kapabel, di sektor yang diwakilinya.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Kunjungan singkat (3 s/d 5 jam) sekali setahun ke masing-masing nagari binaan jelas tidak memadai untuk dapat menyerap semua permasalahan kemiskinan nagari yang ada. Sebaiknya, pemerintahan nagari diberdayakan dengan kemampuan mendata permasalahan, dan sekaligus mampu membuat proposal untuk diajukan sebagai dasar dari usaha perbaikan dan pembangunan kesejahteraan nagari (rakyat miskin yang ada).<span>   </span>Harus ada komunikasi yang intense antara pemuka masyarakat dan pemerintahan nagari dengan tim. Diperlukan pula forum pendiskusian berbagai alternatif kegiatan, yang ditawarkan, untuk mengatasi berbagai masalah. Pilihan kegiatannya apa dan format kegiatannya seperti apa. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Kita ambil contoh kalau untuk membimbing masyarakat agar mampu berkebun kedelai, apakah cukup dengan memberi nagari satu buku tentang cara bercocok tanam kedelai saja?, harus dikirimi seorang tenaga penyuluh spesialis tanaman kedelai?, atau perlu pelaksanaan <em>demplot </em>sekalian? Barangkali, negeri tertentu cukup dibantu dengan dikirimi buku saja, sementara nagari lain memerlukan bimbingan tenaga dan bantuan permodalan juga. Itu baru merupakan satu contoh alternatif kegiatan dari aspek ekonomi kerakyatan, yang melekat didalamnya permasalahan atau aspek <em>‘mendidik’. </em><strong>Ada banyak alternatif kegiatan dalam aspek <em>ekonomi</em> dan aspek <em>kesehatan masyarakat</em>, yang harus dikomunikasikan dalam <em>wahana pendidikan</em>.</strong><span>  </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Semakin jelas bahwa pembinaan terpola dan terkoordinasi memang diperlukan.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Disamping itu anggota tim pembinaan harus mendapat akses kepada <em>data base</em> menyeluruh dari semua nagari binaan. Ini penting agar dia dapat ‘menempatkan’ berbagai kegiatan sektoral yang di bidanginya dengan pas dan menyambung dengan apa-apa yang ditangani sektor dan subsektor lain, dari tiga sektor yang ada, (kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan) di tiap nagari binaan. Bila tidak demikian gerak usaha tidak akan sinkron. Gerak yang tidak sinkron antar sektor tidak akan efektif.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Pendanaan Anggota Tim Pembina</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Selama kunjungan ke 13 nagari/kelurahan binaan, akomodasi (transportasi, makan dan penginapan) dibayarkan dengan dana mata anggaran<span>  </span>Biro Pemerintahan Nagari, sementara <em>lumpsum</em> untuk anggota tim dari masing-masing dinas terkait diharapkan dapat dikeluarkan oleh dinas masing-masing. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Khusus untuk anggota tim dari unsur Dinas Pendidikan, untuk selama kunjungan ke 13 nagari/kelurahan itu, ‘dibantu’ dengan<span>  </span>dana (dua kali) perjalanan dinas, sebesar Rp 400.000. dari Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat. </span></span><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Laporan Kondisi Kependidikan</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Sebenarnya,<span>  </span>bagi anggota tim (pendidikan, khususnya) agak sulit untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya dari apa yang menjadi penyebab kemiskinan masing-masing kepala keluarga di tiap nagari kalau hanya melalui kunjungan berdurasi 3 sampai lima jam saja. Kondisi sosial ekonomi masyarakat nagari dan kelurahan yang dikunjungi, satu sama lainnya cukup berbeda dalam skala jumlah penduduk dan luas areanya. Artinya, ketersediaan potensi sumber daya manusia dan alamnya masing-masing nagari, bisa berbeda jauh. Tiap peserta yang hadir di pertemuan juga mempunyai kemampuan yang sangat bervariasi untuk memberikan data dan gambaran yang sesungguhnya.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh karena itu, bila kita ingin mencaritahu, kelak tentang keberhasilan pembinaan yang akan kita lakukan haruslah, pula, dengan memakai tolok ukur dengan skala yang<span>  </span>jelas. Tolok ukur itu misalnya dengan membandingkan kondisi masing-masing nagari itu sendiri sebelum dan sesudah pembinaan dalam segi: angka kemiskinan, index income rata-rata, tingkat pendidikan rata-rata, derajat kesehatan warga masyarakat, kemampuan mobilitas penduduk, tingkat produktifitas ekonomi penduduk menurut kelompok umur dan lain sebagainya.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam laporan perdana ini, yang baru merupakan hasil pantauan dan pengarahan awal, kiranya yang dapat dilaporkan adalah apa apa yang<span>  </span>terpantau dari dialog pendek di kantor wali/kepala kelurahan. Hasil pantauan itu kebanyakan bersifat kualitatif dengan sedikit data kuantitatif yang bersifat umum. Dalam dialog (antara tuan rumah dengan tim) yang relatif pendek itu <strong>terkesan bahwa seolah-olah permasalahan pendidikan seperti <em>tidak ada</em></strong><em>. </em>Yang paling banyak dikemukakan adalah permasalahan <strong>pembangunan ekonomi</strong> (permodalan) di bidang pertanian: perkebunan, persawahan, peternakan dan perikanan darat, serta <strong>pelayanan kesehatan</strong>.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Namun demikian, kalau kita jeli melihat, tetap saja ada, hampir disetiap nagari permasalahan<span>  </span>pendidikan sebagai berikut:</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Permasalahan Pendidikan</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Relevansi Pendidikan dan Latihan</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Permasalahan sebahagian besar nagari dan kelurahan di bidang pendidikan adalah belum tersedianya tenaga kerja terdidik yang terampil di bidang-bidang potensial (yang ada) untuk dikembangkan di nagari/kelurahan itu. Bila yang mau dikembangkan tanaman kakao, misalnya, belum ada cukup warga yang menguasai tatacara berkebun kakao. Dirasakan pula berbagai kekurangan tenaga untuk keterampilan tertentu seperti: usaha perbengkelan sepedamotor, kerja berbagai proyek konstruksi, seperti; bangunan gedung,<span>  </span>prasarana, jalan dan pengairan. Di samping itu juga terasa kurang tenaga penggerak koperasi yang berdedikasi. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Pendidikan Terhadap Nilai-nilai Moral Etika</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Mau dikembangkan cara hidup berkoperasi; disamping minimnya tenaga yang menguasai seluk beluk perkoperasian, juga masih banyak di kalangan warga yang <em>tidak jujur</em>. Di nagari tertentu, cukup banyak dari mereka yang enggan membayar utang di koperasi yang pernah ada. Kondisi ini membuat sebahagian warga yang lainnya enggan berkoperasi lagi.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Pendidikan Untuk Pembauran</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Di Sawahlunto, Pasaman Barat, Dharmasraya, dan kemungkinan di Mentawai juga, mencuat tanda-tanda pentingnya perhatian terhadap pendidikan yang menjurus kepada pengembangan sikap untuk bisa hidup bersama di lingkungan beda suku dan agama. Pemuka masyarakat Durian II, Kota Sawahlunto cukup bergembira dengan tingginya toleransi warga yang terdiri dari berbagai suku dan agama di sana. Akan tetapi mereka cukup merisaukan tawuran antar suku yang pernah terjadi di tempat lain, di Sumbar ini.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">PAUD</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Belum semua <em>nagari binaan</em> mempunyai kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini.</span></span><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Buta Aksara</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Belum semua nagari terbebas dari buta akasara</span></span><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p><strong></strong><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Perpustakaan Nagari</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Belum senua nagari mempunyai perpustakaan sebagai alternatif sumber belajar. Ada nagari yang sudah mempunyai beberapa koleksi buku untuk Perpustakaan Nagari. Akan tetapi perpustakaan itu belum beroperasi menurut semestinya, di samping tidak tersedianya buku yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, terkait pengentasan kemiskinan dan peningkatan derajat kesehatan.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Fasilitas (Lapangan) Olahraga</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Ada nagari yang belum mempunyai tanah lapang olahraga sama sekali, sehingga sekolah yang ada tidak mempunyai sarana dasar untuk kegiatan olahraga (minimal) yang memadai.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Fasilitas Rumah Ibadat (sebagai wadah Pendidikan Keagamaan, MDA)</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Perekonomian yang kurang baik di sebahagian nagari binaan menyebabkan mereka belum mampu memperbaiki fasilitas rumah ibadat seperti surau atau masjid.. Fasilitas ruangan belajar di MDA, dan sarana kebersihan tempat wudhu’ belum memadai, disamping pembiayaan untuk penanganan pendidikan MDA itu sendiri.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Biasanya, nagari mengandalkan juga fasilitas mandi, cuci, kakus –MCK&#8211;,<span>  </span>milik rumah ibadat (mushalla dan masjid , maupun gedung MDA) untuk dapat dipakai secara bebas oleh<span>  </span>para pengunjung (dan wisatawan); maka kita akan kecewa. Sebahagian besar MCK yang ada tidak terawat baik, malah ada yang dikunci.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Kondisi ini tidak hanya menyulitkan siapa saja yang datang berkunjung ke nagari-nagari tersebut, tetapi juga tidak dapat dipakai oleh para anak didik dan warga lokal. <em>Ini menyulitkan pendidikan untuk hidup bersih dan sehat di kalangan masyarakat.</em> Di lain pihak, kebanyakan kantor pemerintahan nagari menghandalkan, untuk pelayanan publik, fasilitas WC umum yang ada di rumah-rumah ibadat terdekat. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span></span></span></p>
<p><span><span style="font-family:Times New Roman;"></span></span><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Saran saran, Jalan Pemecahan Permasaalahan</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Bila kondisi awal tiga-belas (13) nagari/kelurahan binaan ini telah mampu kita <em>rekam </em>semuanya, sudah barang tentu kita ingin nagari/kelurahan ini menjadi lebih baik kondisinya ketika kita datang untuk mengevaluasi.. Oleh karena itu, sangat perlu dilakukan pembenahan segi pendidikan ini diperhatikan dan ditangani dengan saksama, berbarengan dengan usaha pembenahan <strong>kesehatan</strong> dan <strong>perekonomian</strong>. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';">  </span></span></span><strong><span>Sumberdaya manusia yang ada di nagari/kelurahan itu harus dipacu dengan pendidikan yang relevan</span></strong><span> agar bisa berkembang maksimal. Segala sumber dana dan daya yang ada dalam bentuk program pembangunan pendidikan, di tingkat propinsi haruslah di prioritaskan, difokuskan, ke nagari/kelurahan binaan supaya ada <em>beda</em> <em>perkembangan</em> yang signifikan antara nagari binaan dan yang bukan. Dana dan daya di tingkat propinsi di maksud antara lain adalah: </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"></span><span style="font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Program Latihan (berbagai) Skill untuk pemuda dan <strong>guru</strong>, </span></span></p>
<p><span style="font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Bantuan untuk PAUD</span></span></p>
<p><span style="font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Pemberantasan buta aksara</span></span></p>
<p><span style="font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Bantuan beasiswa untuk anak keluarga miskin</span></span></p>
<p><span style="font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Bantuan untuk Perpustakaan Nagari</span></span></p>
<p><span style="font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Bantuan untuk (prasarana dan) sarana olahraga</span></span></p>
<p><span style="font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Bantuan untuk sarana ibadah dan pendidikan MDA</span></span></p>
<p><span style="font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Perhatian terhadap pendidikan untuk pembauran yang diarahkan untuk guru-guru</span></span><span style="font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Perhatian untuk konservasi sumberdaya alam, dalam rangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) untuk guru-guru</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';">  </span></span></span><span>Pembina/fasilitator nagari binaan (bidang pendidikan) haruslah lebih banyak mendengar masukan dan keluhan yang ada di nagari-nagari, bukan sebaliknya; membawa, meng-introdusir, permasalahan baru dan polanya sendiri.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';">  </span></span></span><span>Permasalahan, atau apa-apa yang menjadi pembicaraan dan telah didiskusikan dengan alternatif pemecahan masaalahnya di setiap tatap muka pembinaan harus menjadi catatan atau dokumen yang benar-benar diusahakan implementasi tindak-lanjutnya untuk perbaikan, baik oleh pimpinan nagari sendiri maupun oleh pembina masing-masing sektor.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Ketiga hal ini sangat menjadi harapan dari hampirsemua pemuka masyarakat yang hadir dalam acara tatap muka pembinaan di berbagai nagari. Bila<span>  </span>semua hal itu diperhatikan, maka apa yang menjadi kerisauan kita, seperti dicetuskan oleh Elfindri, Ph.D., di atas, tentu tidak akan berkelanjutan mendera nagari binaan kita di Sumatera Barat. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Mari kita usahakan bersama-sama menekan angka ‘ibu yang miskin pendidikan’, untuk kemudian kita bisa memacu pendidikan untuk kesejahteraan.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Padang, Mei 2007</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fekrynurbush.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fekrynurbush.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=3&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/09/3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fekrynurbush.files.wordpress.com/2007/10/drs-fekrynur-med.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">drs-fekrynur-med.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/09/hello-world/</link>
		<comments>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/09/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2007 03:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fekrynurbush</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=1&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fekrynurbush.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fekrynurbush.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fekrynurbush.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fekrynurbush.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fekrynurbush.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fekrynurbush.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fekrynurbush.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fekrynurbush.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fekrynurbush.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fekrynurbush.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fekrynurbush.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fekrynurbush.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fekrynurbush.wordpress.com&blog=1872850&post=1&subd=fekrynurbush&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fekrynurbush.wordpress.com/2007/10/09/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1dee7f8816e7dcce628dc35b94665c20?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">fekrynurbush</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>