Better Education for Indonesia


West Sumatra After Earthquake Attact
Oktober 22, 2009, 2:33 pm
Filed under: Pendidikan

Education is the most to suffer after the September 30th earthquake in West Sumatra. The most affected regions are Padang, the capital city, Pariaman city, District Padang Pariaman, District Agam, and Pesisir Selatan. Many school buildings collapsed, meanwhile after several months, in May 2010 students will have to go through the national exam.
Students of the collapsed schools have to study under plastic tents, that are hot during the school hours. The floors are wet and muddy in the rain. Students as well as their teachers find it hard to concentrate to the lessons. Learning resources are lost and or damadged in the earthquakes.

They really need helps and supports.



Magang Guru MIPA SBI Sumbar, Dihentikan Mendagri ?
September 24, 2008, 4:09 am
Filed under: Pendidikan

Guru Sumbar tak Boleh Magang ke LN

Padang, Gubernur Sumatra Barat (Sumbar), Gamawan Fauzi mengungkapkan, program magang dan studi banding sejumlah guru daerah ini ke luar negeri tidak diizinkan oleh Departemen Dalam Negeri (Depdagri). “Pada dasarnya program yang ditujukan untuk peningkatan mutu pendidikan dan tenaga pendidik itu tidak diperkenankan Depdagri,” kata Gamawan di Padang, Minggu. Program yang akan didanai APBD Sumbar 2008 itu menjadi salah satu kegiatan yang dikoreksi oleh Depdagri dan anggarannya diminta untuk dialihkan mendanai kegiatan dalam rangka peningkatan layanan dasar kepada masyarakat.

Sebelumnya, Pemprov Sumbar dalam pembahasan APBD 2008 mengajukan program peningkatan mutu pendidikan dan tenaga pendidik dengan mengikuti magang di Australia. Magang itu akan diberikan kepada guru-guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada satuan pendidikan bertaraf internasional. Selain itu juga diprogramkan studi banding guru bertaraf internasional dari Sumbar ke Beijing, Cina. Namun dua kegiatan itu tidak diperkenankan Depdagri, kata gubernur.

Atas kebijakan Depdagri itu, Pemprov Sumbar telah memberikan penjelasan dan disarankan oleh Depdagri untuk dilakukan rasionalisasi dengan tetap mempedomani Surat Edaran Mendagri No.098/3210/SJ tanggal 15 Desember 2004 perihal perjalanan dinas ke luar negeri.

Kemudian disarankan mempedomani Permendagri No.20/2005 tentang perjalanan dinas ke luar negeri bagi pejabat, pegawai di lingkungan Depdagri, pemerintah daerah, pimpinan dan anggota DPRD. Selain itu, harus mempedomani Instruksi Presiden No.11/2005 tentang perjalanan dinas ke luar negeri, tambah gubernur. Demikian Antara [Singgalang, 22 September 2008]

Tanggapan Ketua Rombongan Magang

Mestinya, orang daerah yang menginginkan kemajuan di bidang pendidikan dasar dan menengah tidak menerima begitu saja ‘aturan mendagri’ yang dikutip gubernur Gamawan Fauzi tersebut. Berikut penjelasan saya:

1. Dana APBD Propinsi Sumatra Barat yang dialokasikan melalui Disdik
Prop Sumbar melalui Unit Satuan Kerja Propinsi itu adalah untuk
Membina Pendidikan Dasar dan Menengah (SD, SMP dan SMA/SMK), yang
bisa diperluas juga untuk PAUD dan PLS. Namun yang disebut kedua
terakhir ini hanya diberi porsi tambahan saja dari porsi utama.
Yang mengherankan saya adalah: adanya Disdik Prop bagi-bagi beasiswa
S2 dan S3 bagi dosen dari PTN dan PTS yang ada di Sumbar, padahal
pengiriman guru magang ke LN katanya akan di larang. Sepertinya,
belanja anak kandung dikurang-kurangi guna dapat membiayai anak tiri.

2. Untuk tahun 2008 ini kita telah melakukan magang ke Perth, dengan
mengirim 19 orang guru MIPA SBI Sumbar. Diharapkan kita dapat
melakukan itu lagi di tahun- tahun anggaran 2009 dst. Kalau benar,
anggaran yang dikelola Disdik Prop untuk pendidikan dasar dan
menengah, khususnya sekolah yang ‘bertaraf internasional’ yang
pembinaannya berada di bawah Pemerintahan Provinsi.

3. Akan tetapi kita tersandung oleh aturan Mendagri tentang
pelarangan pejabat melakukan perjalanan ke luar negeri, seperti yang
dikatakan gubernur Gamawan Fauzi. Saya bisa paham tentang aturan itu
sepanjang itu pembatasan untuk pejabat pemerintahan; camat, sekda,
dan anggota DPRD. Saya tidak mengerti sampai dimana pemahaman
Mendagri tentang usaha memajukan pendidikan? Kenapa dia mengatur
perjalanan guru yang telah diatur juga oleh Mendiknas. Mungkinkah
karena ini terkait aturan APBD harus di setujui Mendagri terlebih
dahulu? Adakah wewenang mendagri mencampuri pengeluaran APBD, item
per-item?

Terima kasih.
Fekrynur,
Pengawas Sekolah Disdik Provinsi

Berbagai tanggapan di milinglist Komunitas Pemerhati Pendidikan (Pakguruonline)

From: Zamris Habib <zamrish@…>
Subject: [pakguruonline] Guru Sumbar tak Boleh Magang ke LN
To: pakguruonline@yahoogroups.com
Date: Tuesday, September 23, 2008, 1:32 PM

Pak Fekri, dan kawan2 Yth
Membaca keluhan2 dengan tidak diizinkannya guru2 untuk mengikuti training di LN saya hanya ingin mengingat kembalikepada Bapak Pemda bagaimana rencana pembangunan strategis yang dilaksanakan oleh Malaysia di tahun 70an. Mereka mengirimkan antara 10 sd. 20 % guru mereka ke  berbagai negara secara bertahap (setiap tahun), untuk mengisi kekosongan mereka datangkan guru2 dari Indonesia. Lihat sekarang hasilnya bukan main, SDM kita jauh tertinggal dari Malaysia yang di tahun 70an kita lebih unggul dari mereka.. Kenapa Pemda  tidak merencanakan mengirim setiap tahun 10 – 20 % guru2 kita ke  berbagai negara sesuai dengan bidang studi mereka. Memang hasilnya baru bisa dilihat 15 tahun kedepan, tidak bisa kita harapkan hasilnya pada waktu pemilihan Kepala Daerah yang akan datang. Apalagi saya pernah dengar Gubernur kita pernah mengatakan Sumbar adalah Pabrik Otak bukan Otot, tolong buktikan ?

Best Regards,
Zamris Habib, Jakarta

http://educational- technology- forum.blogspot. com/
http://zamrishabib. wordpress. com/

Re: [pakguruonline] Guru Sumbar tak Boleh Magang ke LN
Ha, kalau begitu perlu ada yang bicara dengan Mendagri, kok aneh beliau melarang anggaran APBD untuk guru SD-SMP tapi boleh untuk dosen yang bergelar S2-S3.
Kita amanahkan tugas ini kepada pak Mochtar Naim, yang selain masih jadi anggota DPD juga sedang maju lagi sebagai caleg dalam Pemilu 2009. Kalau beliau berhasil memperjuangkan masalah ini dengan Mendagri, bisa dipertimbangkan untuk dipilih lagi.
Selain itu saya harapkan Ajo Indra Jaya Piliang mencoba ‘maresek’ ke Depdagri. Bila berhasil, saya sarankan para guru di Dapil 2 Sumbar memilih beliau. Fastabiqul khairaat.
Saya ingin agar guru SD dan SMP kita setaraf dengan di luar negeri, karena beliau-beliaulah yang akan meletakkan fondamen untuk kaum terpelajar kita di masa datang.
Untuk Pak Fasli Jalal, kan ada anggaran sendiri untuk pendidikan dosen ke S2 dan S3?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf10leo@…;
saafroedin.bahar@…


PENDIDIKAN ATAU OLAHRAGA-KAH YANG LEBIH PENTING
November 1, 2007, 3:19 am
Filed under: Pendidikan

 “Indonesia Kirim 50 Atlit Muda Berlatih ke Kuba” Kontingen Kuba selalu meraih tempat terhormat, paling tidak selalu masuk dalam urutan lima besar pada beberapa olimpiade yang pernah diadakan, yaitu di Seoul, Barcelona, Atlanta, Sydney dan terakhir di Athena. Kuba juga akan mengirim atlitnya ke Indonesia untuk belajar badminton dan pencak silat.

(lagi…)



MEMBENAHI PENDIDIKAN NAGARI BINAAN
Oktober 10, 2007, 2:58 am
Filed under: Pendidikan

MEMBENAHI PENDIDIKAN NAGARI BINAAN

fekrynur.jpg

Oleh: Drs. Fekrynur, M.Ed. 

“…Ibu yang ‘miskin pendidikan’ cenderung tidak melanjutkan pendidikan anaknya. Kemiskinan pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemiskinan ekonomi.” [Elfindri, 2001, hal. 107.] 

PENDAHULUAN

Banyak orang percaya kalau pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting dan merupakan unsur utama kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) malah menetapkan: Pendidikan, Kesehatan dan kemampuan Ekonomi sebagai indikator resmi dari PEMBANGUNAN KEMANUSIAAN. Ini disebut sebagai HDI (Human Development Index). Artinya: kelompok masarakat yang HDI-nya cukup tinggi, rata-rata anggota masyarakat itu lebih lama duduk di bangku sekolah, angka buta huruf-nya rendah; di bidang kesehatan, mereka hidup sehat sampai usia cukup tua, dan relatif tidak ada terjangkit penyakit menular dan wabah; sedangkan dalam perekonomian, mereka mempunyai daya beli yang tinggi, tidak ada yang miskin apalagi sampai kelaparan. Di pihak lain, jumlah penduduk miskin Indonesia selalu bertambah, dari tahun ke tahun. Ini adalah merupakan suatu kenyataan pahit. Data Balitbang Depdiknas menyatakan: 63,35 % tenaga kerja Indonesia hanya berpendidikan SD. [Subijanto, 2007]

Tingkat harapan hidup bangsa kita juga masih rendah, dengan kasus wabah penyakit  cukup sering terjadi. Tidak hanya itu; kita sangat sering mendengar warga masyarakat  keracunan makanan, yang disebabkan termakan makanan yang kurang bersih, dan mengonsumsi makanan kadaluarsa. “Termakan makanan mutu serampangan ini” adalah salahsatu indikasi masarakat kita kurang pengetahuan dan lemah tingkat ekonominya, dan ini berdampak kepada rendahnya mutu kesehatan badan. 

Tulisan ini mencoba mengungkapkan sedikit tentang kondisi masarakat (miskin) kita di beberapa Nagari Binaan Provinsi, dengan tujuan memberikan masukan kepada stake holders, komite sekolah, dewan pendidikaan, dan dinas instansi terkait untuk dapat menemukan akar permasalahan (kemiskinan di Nagari Binaan), mencarikan jalan pemecahannya, dan sekaligus dapat dilakukan ‘action’, untuk menanggulanginya.  (lagi…)




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.