Better Education for Indonesia


Debat Bahasa Inggris
Juli 10, 2011, 9:04 pm
Filed under: Article | Tag:

Debat Parlemen Australia

(versi: World School Debating Contest)

Drs. Fekrynur, M.Ed.

Tidak semua orang terbiasa berdebat. Namun, kepandaian berdebat adalah cerminan dari kemampuan seseorang berfikir kritis.

 Some questions on debates:

Why debating?

What are involved in debating?

What (skills) do the participants get from debating?

Does debating change the world or yourselves?

 How can you ensure others?

Ø      with facts, or

Ø      opinion

 Who is the winner of a debating session?

How should a debate end?

 Group Debat dan Pelaksanaan:

  1. Masing-masing group terdiri dari tiga (3) orang peserta,
  2. Ketiga anggota group haruslah dari sekolah yang setingkat dengan group lawan debatnya.
  3. Group peserta harus telah menyerahkan berkas pendaftaran lengkap kepada panitia sebelum masa pendaftaran ditutup.
  4. Juri debat haruslah terdiri dari tiga orang anggota yang independent, dan adil.
  5. Juri harus duduk terpisah, untuk tidak saling mempengaruhi satu samalain.
  6. Harus ada moderator dan time keeper.
  7. Pemenang debat adalah group dengan jumlah score lebih tinggi.
  8. Namun, score tidak dapat dipakai untuk menentukan rating kemampuan debat dua tim (dalam skema pertandingan) yang tidak diadu.

 Prosedur Debat

 Aturan yang detil tentang prosedur dan aturan debat haruslah dijelaskan sebelum debat dimulai.

 Namun secara garis besar dapat disampaikan sebagai berikut; pertandingan ‘Debat Parlemen Australia’ biasa dilaksanakan dengan memberi waktu: 6 – 8 menit bagi masing-masing pembicara pertama,  kedua dan ketiga dalam prime speech, sesuai dengan ketentuan panitia. Sedangkan untuk reply speech hanya diberikan waktu: 3 – 4 menit  saja kepada tiap tim.

Jadi kita akan mendengar ‘empat kali pembicaraan’ dari masing-masing group. Peserta berbicara , bergantian, selang seling dari kedua tim yang ‘berlaga’, dan dimulai oleh pembicara pertama  (enam menit) dari pihak AFFIRMATIVE. Prime speech terakhir tentu disampaikan oleh pembicara ketiga dari NEGATIVE, dan diteruskan dengan REPLY SPEECH dari tim NEGATIVE. Dengan begitu, tim AFFIRMATIVE menjadi pembicara terakhir, saat salah satu dari mereka menyampaikan REPLY SPEECH.

 Pembicara pertama, AFFIRMATIVE, biasanya perlukan menjelaskan; background of the case, definition of the motion, that they have discussed in the case building, presenting one of the reasons, arguments to support, data and examples.

 Pembicara kedua dan seterusnya diharapkan dapat mendengar pendapat dan ide-ide pembicara sebelum untuk kemudian mendebat dan mematahkannya, disamping dia mengemukakan pula alasannya sendiri dalam mendukung dan menolak motion.

 Pembicara terakhir (ketiga) dari kedua group yang berlaga, diharapkan tidak lagi menyampaikan ide atau pendapat baru. Hendaknya, dia lebih banyak mengkritisi kelemahan pendapat dan alasan lawan, membantahnya, untuk kemudian  menggarisbawahi keunggulan pendapat groupnya sendiri. Usahakanlah selalu untuk meyakinkan audience dan para juri.

 POI (point of information)

POI dapat ditawarkan oleh pihak lawan debat (AFFIRMATIVE  atau NEGATIVE) kepada yang sedang berbicara, dengan cara memberi ‘signal’, tangan diangkat sambil memanggil pembicara. Namun tidak ada keharusan bagi sipembicara saat itu untuk memberi kesempatan (untuk menerima).

Bila kesempatan ber-POI diberikan; penyampaiannya tidak boleh lebih dari 20 detik.

POI juga tidak boleh ditawarkan disembarang waktu. Peserta debat harus memperhatikan tanda kapan POI mulai bisa ditawarkan, dan atau sudah tidak boleh lagi ditawarkan.

Biasanya, POI yang ditawarkan tidak menambah kredit  atau mengurangi nilai buat sipemberinya. Akan tetapi speaker penerima POI yang pintar akan bisa merespon POI dengan jitu, sehingga dia bisa memamfaatkan POI untuk mencapai kredit lebih. Sebaliknya speaker yang lemah bisa semakin terpojok, ditantang oleh POI yang bagus.

Reply speech diberikan untuk penyampaian kesimpulan untuk kemenangan pendapat groupnya atas pendapat lawan. Oleh sebab itu, pembicaraan  dua (2) menit ini, tidak ada POI lagi yang ditawarkan atau diterima.

Beberapa Contoh Topik Debat

 This house believes that…

1.                 senior vocational schools cannot be for free, and fully financed and organized by the government only.

2.                 all cigarette factories in Indonesia should be closed, because cigarette smoking only causes problems.

3.                 the government should liberalize ‘haj’ handling by giving it up to private tour agents.

4.                 high school teachers should not talk to their students about any candidates who compete in local government positions like regent or mayor.

5.                 we must be supportive on the development of the senior citizen housing, where the old should stay among themselves only.

6.                 this country has been mismanaged by its own people; and that it is time to give people of other nationalities to manage it for us.

 Catatan:

 Posisi setuju atau berlawanan pendapat dengan motion yang diberikan tidak akan mempengaruhi penilaian karena dalam debat yang dipentingkan adalah kepandaian peserta dalam menyimak dan merespon penyampaian pembicara sebelumnya, dan kemampuannya dalam  menyampaikan hujjahnya atas pendapat lawan untuk menegakkan pendapatnya sendiri.

Berfikir kritis bisa didapatkan dengan berlatih debat.



Nagari Binaan
Oktober 9, 2007, 4:20 am
Filed under: Article

NAGARI BINAAN

Laporan Fasilitator Bidang Pendidikan

drs-fekrynur-med.jpg

 

Oleh:Drs. Fekrynur, M.Ed. 

“…Ibu yang ‘miskin pendidikan’ cenderung tidak melanjutkan pendidikan anaknya. Kemiskinan pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemiskinan ekonomi.” [Elfindri, 2001, hal. 107.] 

PENDAHULUAN

Jumlah penduduk miskin Indonesia selalu bertambah, dari tahun ke tahun. Diharapkan program pembinaan terhadap beberapa nagari (langsung) oleh Pemerintah Propinsi ini dapat menemukan akar permasalahan (kemiskinan di nagari binaan), mencarikan jalan pemecahannya, dan sekaligus melakukan ‘action’. Program ini diproyeksikan untuk menjadi contoh penanganan usaha menekan laju pertumbuhan penduduk miskin di nagari. Pembinaan ini dilakukan dalam suatu pola kerja yang mensinergikan berbagai sektor pemerintah dan swasta terkait  dalam aspek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan, di tingkat kabupaten/kota untuk mengembangkan semua potensi yang ada di masing-masing nagari/kelurahan binaan.  

(lagi…)




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.