Andaikan saya punya kekuasaan, kegunaan kekuasaanku itu, yang utama, adalah untuk perbaikan pendidikan. Negara kita jelas tertinggal dari negara tetangga sekitar. Ini sebahagian besar disebabkan kurang seriusnya kita mebenahi pendidikan. Ketidak seriusan itu kentara sekali, dan makin menjadi-jadi semenjak era otoda. Ini terlihat dari: 1. kurang pasnya cara perikrutan pejabat yang menangani pendidikan; guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, kepala dinas, dan para pembantunya 2. kurang seriusnya pengkajian dan tindak lanjut usaha pembenahan pendidikan, khususnya terkait soal proses belajar mengajar di kelas. 3. keringnya dunia pemerintahan, termasuk dari jajaran dinas pendidikan sendiri, dalam memberikan contoh pelaksanaan ‘akhlak mulia dan krakter terpuji’. a.d 1: Bila tidak menyerahkan sesuatu kepada ahlinya – tunggulah kehancuran, itu sudah di depan mata kita. Dikatakan; dinas pendidikan propinsi tidak mempunyai sekolah yang akan dibinanya langsung, tetapi dari dulu sampai sekarang dia masih saja menjadi rujukan dari sekolah di kab/ko, dan RSBI menjadi tanggungjawab pembinaannya, oleh karena itu para pejabat dan semua pengawas sekolahnya mestilah dirikrut, dan semaksimalnya mestilah dari mereka yang telah pernah menapaki semua anak tangga kependidikan: guru, wali kelas, wakil, kepsek, guru inti, instruktur, pengawas, kasi, kabid, dan kepala dinas. Porto-folio mereka mestilah yang bernilai baik dan punya komitmen terhadap pekerjaannya. a.d 2: Perikrutan yang kurang baik berdampak kepada: ketidak-penguasaan permasalahan teknis bidang pendidikan, arogansi pejabat, tidak menghargai proses, pendangkalan permasalahan, sampai kepada penyepelean penanganan permasalahan pendidikan dan mubazir. Peserta didik menjadi jauh dari: keterampilan proses belajar dan membaca, penghargaan kepada kebersihan dan kesehatan, serta akhlak mulia dan karakter terpuji. a.d 3: Pekerjaan mendidik yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak bangsanya terutama adalah dengan: mencontohkan dalam bentuk ‘ketauladanan’ Lalu apa yang dilihat anak kita di televisi saban hari. Tontonan apa yang kita berikan selain dari: berita-berita tentang korupsi, suap-menyuap, pertengkaran politik, kekerasan terorisme, pembunuhan sadis, kecelakaan lalulintas dan gaya hidup glamour. Lalu apa usaha kita untuk ‘meredam’ ini di tingkat propinsi ranah Minang ? Bukankah ini harus ditangani secara lebih serius, bukan ditataran permukaan dan seremonial saja…? Kekuasaan, kami GURU, tidak ada sebesar itu…. Walaupun kami cukup ramai namun kami belum disatukan. Ilmu dan pengabdian kami bagai lidi sapu yang lepas dari ikatannya, mengais-ngais sendiri dengan lefu ditertawakan orang-orang. Bila ingin kami berbuat secara signifikan, berikan kami pemimpin yang menguasai bidang pendidikan dan mampu menyatukan kami, bukan yang gemar melecehkan GURU. Seb.Padang, 8 Mei 2011
Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar