Better Education for Indonesia


PENDIDIKAN ATAU OLAHRAGA-KAH YANG LEBIH PENTING
November 1, 2007, 3:19 am
Filed under: Pendidikan

 “Indonesia Kirim 50 Atlit Muda Berlatih ke Kuba” Kontingen Kuba selalu meraih tempat terhormat, paling tidak selalu masuk dalam urutan lima besar pada beberapa olimpiade yang pernah diadakan, yaitu di Seoul, Barcelona, Atlanta, Sydney dan terakhir di Athena. Kuba juga akan mengirim atlitnya ke Indonesia untuk belajar badminton dan pencak silat.

Di samping pertukaran atlit juga disepakati, kedua belah pihak (Indonesia – Kuba), sejumlah agenda pengembangan mutu pelatih dengan saling tukar buku, rekaman, publikasi majalah, dan alat olah raga.  Dua puluh sembilan (29) atlit dan lima (5) pelatih angkatan pertama yang berangkat ke Kuba adalah: Rubenson Christian Djo, Beatus Armindo Nealaka, Alberto Alfons, Nirwan effendi Harahap dll..” [dikutip dari: hal 7 Buletin Kemenegpora, Edisi 4 Volume 2 - Juni 2007] 

Manakah yang lebih penting (urgen) untuk Republik Indonesia ini; pembinaan mutu pendidikan, atau kemenangan dalam beberapa cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade? Siapakah yang paling layak untuk dikirim ‘menjemput’ olahraga serta pendidikan bermutu itu ke mancanegara?  Kondisi riil pendidikan dan olahraga di negeri kita telah kita percermin setiap hari; begitu pula kondisi perekonomian negeri ini. Kita juga sering melihat di layar TV Rano karno berujar: “… Bagaimanapun perekonomian kita, anak harus tetap sekolah…” Sepakatkah kita bahwa dalam kondisi keuangan negara yang tidak begitu menguntungkan, seperti sekarang, kita  harus mendahulukan yang lebih penting? 

Human development index (HDI) mengindikasikan tingkat kemajuan manusia di dunia dengan  tiga hal berikut: (1)  tingkat kesehatan, (2) pendidikan (yang mencakup lama duduk di bangku sekolah, dan angka butahuruf yang rendah), serta (3) daya beli rerata penduduk suatu negara. Saat ini, dikatakan bahwa yang menduduki peringkat HDI terbaik adalah  Kanada, diikuti Norwegia, Amerika Serikat, Australia, dan Islandia. Sedangkan negeri kita berada di peringkat seratusan lebih. Inginkah kita memperbaikinya?; dengan cara apa? 

Kita harus tetap belajar, kalau tidak mau tertinggal terus. Tempat belajar itu sudah jelas. Nenek moyang kita mengatakan; “Alam terkembang jadi guru.” Tidak dikatakan bahwa, alam terkembang itu hanya di Minangkabau, atau di Indonesia saja. Dengan begitu, kita dituntut untuk mau belajar dari siapa saja, negara mana saja, tentang apa saja termasuk: olah raga dan pendidikan. Berapakah dana diperlukan untuk ‘pembelajaran’? Hal ini tentu tergantung kepada :berapa lama, banyak orang, dan berapa jauh yang dikirim untuk belajar. Ketika mengirim ‘anak bangsa’ belajar ke luar negeri, kita harus pertimbangkan berapa lama mereka, yang dikirim itu, akan dapat mengabdi mengharumkan nama bangsa, sekembali dari sana. Seberapa besar impact pengiriman kepada bidang itu, (pendidikan dan olahraga) di negara ini, kelak. 

SMA Piloting, sekolah berstandar internasional, (SBI) diamanatkan undang undang harus diadakan pemerintah di setiap kabupaten dan kota. Di sekolah itu guru harus mengajar Matematika dan Science berpengantar bahasa Inggris. Pada kenyataannya, kebanyakan guru belum mampu “mengajar dengan pengantar bahasa Inggris’. Mereka baru bisa sekedar bercakap-cakap bahasa Inggris. Untuk mengoperasikan ilmunya dalam pembelajaran siswa, mereka belum mampu; karena mereka memang belum dipersiapkan untuk itu. Kenapa kita tidak memberikan guru SBI ini pelatihan di luar negeri pula?;  seperti yang dinikmati sebahagian kecil pelatih olah raga yang ikut kontingen 50 orang atlit Indonesia ke Kuba? Tidak usah jauh-jauh ke Kuba.

Guru guru SBI cukup dikirim ke negera terdekat, Australia. Ongkosnya tentu akan jauh lebih murah.  Di Sumbar ada 19 kabupaten kota, dengan SBI. Kalau tiap kabupaten kota dapat mengirim lima (5) orang guru untuk magang tentu biayanya tidak terlalu besar. Mereka dapat berlatih dan bekerja sama dengan guru Australia yang mengajar matpel yang sama selama tiga minggu saja. Dengan begitu, dapat diperkirakan, hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan bila mereka dilatih di Indonesia, oleh instruktur yang bukan guru SMA. Instruktur lokal berkualifikasi Doktor dalam bidang ilmu dan Bahasa Inggris sekalipun, belum tentu akan memahami cara mengajar siswa SMA.  

Pengiriman guru SBI untuk magang di Australia akan bisa dikembangkan menjadi pelatihan lokal dengan instruktur guru Australia melalui kerjasama dengan ‘memamfaatkan’ guru Mipa Australia yang kebetulan datang berwisata ke Indonesia (Bali). Mereka bisa tampil di berbagai MGMP guru Mipa SBI. Kita bisa ‘bekerjasama’ dengan Atase Kebudayaan dan Pendidikan negara Australia dan negara lain untuk itu. Kita juga akan dapat menggunakan  para guru yang pernah dikirim untuk magang ke Australia menjadi asisten pelatih bagi ‘instuktur internasional tadi’. Dengan begitu, kita bisa membuat pelatihan lokal lebih bermutu, namun tetap dengan biaya yang relatif murah. 

Saya pikir, program magang seperti diuraikan di atas perlu dilakukan sebelum lulusan LPTK lokal, yang mampu mengajar Mipa dan mata pelajaran lainnya dengan bahasa pengantar Inggris, tersedia. Dalam keterbasan anggaran APBN dan APBD tentu kita harus memilih mana yang akan kita dahulukan; pelatihan atlit atau pelatihan guru SBI. Saya percaya, program pengiriman guru magang akan efektif bila seleksi terhadap guru SBI, yang akan diberangkatkan magang, dilakukan dengan benar.  

Kebanyakan orang tua siswa dan dan pengelola SBI Piloting yang ada sekarang selalu bertanya-tanya; seperti ini sajakah terus pembinaan yang dapat diberi pemerintah pusat dan propinsi? Tidakkah akan ada usaha yang lebih baik untuk pembinaan mutu guru SBI? Wallahu alam bissawab. 

Fekrynur,Pengawas Sekolah Prop. Sumbar.  [Pdg. 29 Sep 2007].


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

saya saat ini lebih mempertanyakan mana yang lebih penting ujian praktek olahraga daripada bahasa Inggris. Apalagi kegiatan latihan yang dilakukan untuk ujian praktek olahraga beberapa minggu ke depan mengambil jam pelajaran bahasa inggris. saya rasa semua mata pelajaran penting, dan tidak perlu ada tindakan diskriminasi oleh kepala sekolah. apalagi hanya karena guru olahraga tersebut pinta”menjilat”, jam yang seharusnya digunakan untuk bahasa inggris diperguanakan untuk latihan senam. saya harap hal ini juga bukan karena status guru bahasa inggris yang masih sebagai tenaga honorer, sedangkan guru olahraga merupakan PNs, sehingga terjadi diskriminasi waktu yang sangat merugikan di pihak mata pelajaran lain terutama bahasa inggris.
jadi, mana yang lebih penting? bukankah semua mata pelajatran itu penting?

Komentar oleh Achieka

Sdr Achieka Yth.

Maaf agak terlambat respon.
Menurut pendapat saya semua matpel yang ada dalam kurikulum penting. Tengkat kepentingannya sesuai dengan uraian yang ada dalam kurikulum itu. Lihat saja apa kata KTSP tentang matpel itu di Buku Satu.

Mestinya tidak terjadi matapelajaran A merebut jadual matpel B. Kan keduanya sama-sama penting. Kalau ditanya kepada saya yang guru bhs Inggris, tentu matpel Bing lebih penting dari Olahraga. Kan anak sekolah (termasuk guru bhs Inggris) bisa berolahraga dan menyegarkan diri di luar jam pelajaran olahraga, sendiri-sendiri atau berkelompok dengan atau tanpa bimbingan guru olahraganyanya. Apa dalam belajar bahasa Inggris siswa dan guru olahraga bisa lakukan sendiri tanpa guru bahasa Inggrisnya? He he he…

Komentar oleh fekrynurbush




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: